Foto : Ist

Dialog-dialog sederhana seperti itu adalah jembatan yang berharga antara generasi. Orang tua mendapat kesempatan untuk berbagi pandangan hidup; anak-anak mendapat ruang untuk bertanya tanpa merasa dihakimi. Ramadan, dengan suasananya yang lebih tenang dan reflektif, adalah waktu terbaik untuk membuka percakapan semacam itu.

Jujur saja: kita hidup di era di mana perhatian adalah komoditas yang diperebutkan. Setiap aplikasi, setiap platform, setiap notifikasi berlomba menarik mata kita. Keluarga yang duduk bersama pun belum tentu benar-benar bersama, masing-masing masih memegang ponsel.

Selain itu, program dakwah televisi kerap dianggap "tidak relevan" oleh generasi muda yang terbiasa dengan konten singkat dan serba cepat. Padahal, banyak program dakwah saat ini justru hadir dalam format yang lebih segar, lebih dekat dengan kehidupan nyata, dan lebih mudah dinikmati lintas usia.

Menghidupkan kembali tradisi ini tidak membutuhkan effort yang besar. Cukup dengan satu kesepakatan kecil: malam ini, kita nonton bareng.

Pilih program yang temanya dekat dengan kehidupan sehari-hari agar semua anggota keluarga bisa terhubung. Buat suasana nyaman—gelar sajadah, siapkan camilan, matikan notifikasi ponsel selama satu jam. Setelah selesai, ajak ngobrol santai—bukan kuliah, hanya obrolan biasa tentang apa yang tadi terasa bermakna. Jadikan rutin; bahkan sekali seminggu sudah cukup untuk membangun kebiasaan baru yang terasa berarti.

Kalau kamu sedang mencari titik awal yang baik, RCTI menghadirkan Tabligh Akbar "Penyejuk Hati" yang disiarkan secara live dari Masjid Agung Baitul Faidzin, Bogor. Program ini menggabungkan tausiyah dari para penceramah inspiratif, lantunan sholawat dari Hadroh Nurul Mustofa, hingga segmen "Curhat Jamaah" yang menghadirkan dialog hangat antara jamaah dan penceramah.

Format seperti ini menawarkan sesuatu yang relevan untuk ditonton bersama—karena tema-temanya dekat dengan kehidupan nyata, bukan ceramah yang terasa jauh dan formal. Ini bisa menjadi pintu yang bagus untuk memulai tradisi nonton dakwah bareng keluarga, atau menghidupkannya kembali setelah sekian lama.

Topik Terkait