IntipSeleb – Sutradara asal Korea Selatan, Lee Hwan Kyung, mengungkapkan tantangan emosional di balik proses penulisan film terbarunya, Gasigogi (가시고기). Bekerja sama dengan Falcon Pictures dan Hwantasy Entertainment, Lee mengaku bahwa menulis film ini terasa jauh lebih berat dibandingkan Miracle in Cell No. 7.
Film Gasigogi mengangkat kisah Jiwa, seorang ayah yang rela mengorbankan segalanya demi menyelamatkan putranya, Juna, yang mengidap kanker darah. Cerita tentang cinta orang tua dan perjuangan menghadapi penyakit tersebut ternyata telah disiapkan Lee sejak 15 tahun lalu.
Namun, sutradara yang dikenal lewat Miracle in Cell No. 7 itu mengaku sempat tidak melanjutkan penulisan ceritanya karena merasa memiliki cinta yang begitu mendalam terhadap kisah tersebut.
Lee Hwan Kyung Merasa seperti Memenangkan Medali Emas
Kembalinya Lee Hwan Kyung untuk menggarap proyek film di Indonesia menjadi pengalaman yang istimewa. Ia mengungkapkan kebahagiaannya melalui perumpamaan seperti berhasil meraih medali emas.
“Sekarang rasanya kayak menang gold medal, senang banget,” ungkap Lee Hwan Kyung.
Lee juga menyapa para penonton dan memperkenalkan dirinya sebagai sutradara yang baru kembali berkarya di industri perfilman Indonesia melalui proyek Gasigogi.
Meski bukan kali pertama bekerja sama dengan Falcon Pictures, proyek ini membawa tantangan berbeda bagi Lee. Jika sebelumnya ia menggarap kisah yang berpusat pada hubungan seorang ayah dan anak dalam Miracle in Cell No. 7, kali ini ia kembali mengeksplorasi tema keluarga melalui cerita yang memiliki ikatan personal dengannya.
Siapkan Cerita Gasigogi Sejak 15 Tahun Lalu
Di balik proses penggarapan Gasigogi, terdapat perjalanan panjang yang telah dilalui Lee Hwan Kyung. Ia mengungkapkan bahwa ide cerita film tersebut sudah dipersiapkan sejak 15 tahun lalu.
Namun, kedalaman emosi yang melekat pada cerita itu justru membuatnya merasa kesulitan untuk melanjutkan penulisan.
“Saya sudah menyiapkan cerita ini sejak 15 tahun lalu. Tapi saya merasa karena cintanya mendalam, saya tidak melanjutkan menulis,” tuturnya.
Pengakuan tersebut memperlihatkan betapa personalnya proyek Gasigogi bagi sang sutradara. Cerita tentang pengorbanan seorang ayah demi anaknya bukan sekadar kisah yang ingin ia hadirkan ke layar lebar, tetapi juga sebuah proyek yang membutuhkan kesiapan emosional dalam proses penulisannya.
Setelah perjalanan panjang tersebut, Lee akhirnya membawa Gasigogi ke tahap produksi bersama Falcon Pictures dan Hwantasy Entertainment.
Menulis Gasigogi Tiga Kali Lebih Berat dari Miracle in Cell No. 7
Lee Hwan Kyung turut membandingkan proses penulisan Gasigogi dengan film Miracle in Cell No. 7, yang sebelumnya sukses diadaptasi ke versi Indonesia oleh Falcon Pictures.
Menurut Lee, menulis Gasigogi terasa jauh lebih berat, bahkan hingga tiga kali lipat dibandingkan film yang telah membawanya dikenal luas oleh penonton tersebut.
“Menulis film ini lebih berat dari Miracle in Cell No. 7, bahkan tiga kali lipat,” ungkapnya.
Pernyataan itu menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi Lee dalam merangkai cerita Gasigogi. Dengan tema pengorbanan orang tua dan perjuangan seorang anak melawan kanker darah, film ini membawa muatan emosional yang kuat.
Dalam proyek terbarunya, Lee kembali menempatkan hubungan ayah dan anak sebagai inti cerita. Namun, Gasigogi memiliki perjalanan kreatif tersendiri, mengingat ide film ini telah tersimpan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya diwujudkan.
Film ini dibintangi Vino G. Bastian sebagai Jiwa, Pevita Pearce sebagai Kania, serta sejumlah aktor Indonesia lainnya, termasuk Faradina Mufti, Indro Warkop, Indra Jegel, dan Dea Panendra.
Saat ini, Gasigogi masih menjalani proses produksi. Film tersebut diharapkan dapat menghadirkan pengalaman emosional bagi penonton melalui kisah tentang cinta, perjuangan, dan pengorbanan seorang ayah demi anak yang dicintainya.