IntipSeleb – Baru-baru ini, suasana Car Free Day (CFD) Sudirman berubah tegang ketika sebuah kendaraan mirip Rubicon tiba-tiba muncul dan seolah menerobos kerumunan. Warga serentak berteriak, “STOP!! STOP!!” lalu kemudian “STOP BULLYING!!” sambil terdengar bunyi klakson menyerupai sirene motor polisi. Momen itu memicu gelombang kepanikan karena publik langsung teringat pada peristiwa viral serupa yang pernah menghebohkan Jakarta.
Kerumunan makin gelisah ketika mobil tersebut terlihat makin dekat. Namun, beberapa detik kemudian, kejanggalan muncul: kendaraan itu melayang sedikit di atas tanah. Dari celah massa, warga melihat sejumlah orang berada di bawahnya. Ternyata mobil mirip Rubicon itu hanya struktur ringan yang digotong belasan relawan sambil meneriakkan “STOP BULLYING!” berulang kali.
Begitu warga mulai berani mendekat, tulisan besar di sisi mobil akhirnya terlihat jelas “OZORA: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel.”
Aksi yang kemudian dikenal sebagai BULLYCON tersebut merupakan bagian dari kampanye jelang perilisan film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel. Umbara Brothers Film dan sutradara Anggy Umbara membawa simbol Rubicon itu ke tengah publik sebagai pengingat kasus penyalahgunaan kekuasaan yang pernah mencuri perhatian nasional.
Anggy Umbara menegaskan alasan di balik aksi itu melalui pernyataannya. Ia menilai hadirnya replika Rubicon di CFD menjadi bentuk konsistensi untuk tidak diam terhadap praktik ketidakadilan yang kerap berulang dalam masyarakat.
“Kalau dulu mobil ini bisa bebas bergerak tanpa konsekuensi, sekarang biar publik yang melihatnya langsung. Ada hal-hal yang tidak boleh kita lupakan begitu saja,” ujar Anggy.
Aktivasi ini sekaligus mengingatkan bahwa peristiwa yang pernah memicu kemarahan publik tersebut bukan sekadar fenomena sesaat. BULLYCON ingin menghidupkan kembali diskusi tentang bagaimana kekuasaan dapat berjalan tanpa kontrol ketika publik tidak bersuara.
BULLYCON juga menyoroti pesan utama film Ozora: bullying tidak hanya terjadi pada interaksi antarindividu, tetapi juga dapat muncul dari struktur kekuasaan. Ketika aparat bertindak sewenang-wenang, ketika keluarga memelihara kekerasan, atau ketika keputusan hukum tidak berjalan setara, bentuk-bentuk bullying itu lahir dan menimbulkan trauma berkepanjangan.
Aktivasi ini memberi ruang refleksi kepada pengunjung CFD bahwa praktik perundungan tidak hanya terjadi di sekolah atau lingkungan pergaulan, tetapi juga bisa muncul dari institusi dan pihak berkuasa yang tidak mendapatkan pengawasan publik.
Warga yang menyaksikan langsung replika Rubicon itu mengaku aksi tersebut efektif membangkitkan ingatan tentang simbol keberpihakan hukum yang pernah menjadi sorotan nasional.
Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel dijadwalkan rilis pada 4 Desember 2025 di seluruh bioskop Indonesia. Film ini diharapkan dapat memperluas dialog mengenai kekerasan struktural dan pentingnya masyarakat untuk tidak berhenti mengawasi praktik kekuasaan di berbagai level.