Foto : Instagram Denadaindonesia

IntipSeleb – Penyanyi, Denada akhirnya angkat bicara merespons gugatan penelantaran yang dilayangkan putra kandungnya, Ressa Rizky Rossano. Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Feni Rose Official pada Senin, 16 Maret 2026, Denada membantah tudingan itu secara tegas sekaligus membeberkan bukti tanggung jawab finansialnya selama bertahun-tahun.

Gugatan ini bermula ketika Ressa menggugat Denada ke pengadilan karena merasa dibuang dan ditelantarkan sejak lahir pada 2002. Pelantun "Mutha Futha" ini pun langsung menepis klaim tersebut.

Denada menegaskan bahwa kehadirannya di kehidupan Ressa tidak pernah benar-benar hilang, meski secara fisik mereka tak tinggal bersama.

"Ressa itu bukan kesalahan, Ressa itu tidak dibuang. Aku tidak pernah membuang dia. Aku jaga dia, aku pertahankan dia, dan aku lahirkan dia," ujar Denada.

Ia menjelaskan, keputusan menitipkan Ressa kepada kerabatnya di Banyuwangi, Dino dan Ratih, lahir dari kekhawatiran mendalam. Statusnya yang belum menikah saat itu membuatnya takut Ressa akan mendapat stigma dan perundungan dari lingkungan sekitar.

"Bayangan aku pada saat itu, Ressa akan berada bersama keluarga dekat, di mana Om Dino dan Tante Ratih memang sudah lama sekali menginginkan anak laki-laki. Aku pikir perfect, karena Ressa akan tumbuh di mana dia akan melihat ada sosok bapak dan sosok ibu," ungkapnya.

"Dia tidak akan di-bully karena tidak punya bapak. Karena semua orang kan takut sama Ibu (Eyang) dan semua orang di situ sangat amat menghormati keluarga," tambah Denada.

Soal tuduhan penelantaran finansial, Denada memiliki jawabannya. Ia mengaku rutin membiayai kehidupan dan pendidikan Ressa melalui mendiang ibunya, Emilia Contessa. Setiap tagihan pendidikan yang masuk selalu ia lunasi tanpa terkecuali.

"Termasuk kuliahnya, termasuk uang kuliahnya itu juga mama minta sama aku. Setiap kali ada tagihan-tagihan dari Ressa, itu di-forward ke aku. Semua uang kuliah yang mama minta, aku kirim," tegasnya.

Denada bahkan turun ke detail-detail kecil, salah satunya membelikan laptop untuk Ressa setelah mendengar sang anak harus mencatat begitu banyak hal tanpa perangkat yang memadai.

"Aku tanya, 'Emang enggak punya laptop? Kok kasihan melihat nulis sampai sebanyak itu?'. Terus aku bilang, 'Aku aja yang belikan, jangan yang mahal-mahal, yang biasa aja'," katanya menirukan percakapan dengan sang ibu.

Yang lebih mengharukan, Denada tetap menjalankan tanggung jawabnya bahkan di titik paling berat dalam hidupnya. Pada Juli 2019, saat ia kehabisan uang dan terpaksa menjual aset demi membiayai pengobatan putrinya, Aisha, di Singapura, Denada tetap mengirimkan dana darurat ketika Ressa membutuhkan bantuan.

Bibi Ressa, Ratih, sempat menawarkan agar uang itu dipotong dari jatah bulanan sang anak, tapi Denada menolak tegas.

"Tante Ratih waktu itu menghubungi aku, cerita bahwa Ressa sedang ada di satu situasi yang membutuhkan bantuan. Padahal saat itu aku lagi enggak ada duit, benar-benar enggak punya duit, aku lagi jual-jualin semua barang. Aku enggak pernah potong. Enggaklah, itu kan buat anak," jelasnya.

Di balik semua pembelaan itu, Denada menyimpan penyesalan yang dalam. Ia kini sadar bahwa keputusannya menitipkan Ressa adalah sebuah kekeliruan besar.

"Keputusan itu menurut aku keputusan yang salah. Kalau aku bisa memutar waktu kembali, aduh sudah benar kayaknya mestinya dulu tuh aku aja, sama aku aja," ucapnya.

Penyesalan itu bahkan pernah ia utarakan sambil menangis kepada mendiang ibunya, Emilia Contessa.

"Aku pernah bilang sama mama dan aku menyesal banget, ya Allah aku menyesal banget ngomong ini. Aku bilang sama mama, aku menyesal," lanjut Denada.

Kini, di tengah konflik yang bergulir, Denada memilih berdamai dengan keadaan, termasuk dengan panggilan "Mbak" yang selama ini Ressa gunakan untuknya. Ia tidak memaksakan panggilan "Ibu" meski jauh di dalam hati sangat menginginkannya.

"Kalau aku ditanya, aku tentunya ya kepenginnya dipanggil 'Ibu'. Tapi aku merasa aku enggak adil buat dia kalau ujug-ujug aku datang dan bilang 'Pokoknya panggil aku Ibu ya'. It's not fair menurut aku," tuturnya.

Ibu dua anak ini menutup klarifikasinya dengan pengakuan yang jujur dan penuh kerendahan hati.

"Aku memang enggak bisa hadir di semua momen hidupnya, tapi aku lakukan apa yang aku mampu. Cukup enggak? Enggak, enggak cukup. Aku seharusnya lakukan lebih dari itu, dan itu kesalahanku," pungkas Denada.

Topik Terkait