"Ustaz waktu itu MasyaAllah, bilang 'Kita itu manusia, cuma bisa berencana, Allah itu yang menakdirkan," ujar Shireen Sungkar.
Tak berhenti di situ, sang ustaz juga memberikan pesan yang hingga kini masih membekas di hati ibu tiga anak tersebut.
"'Kamu itu dikasih surga di depan mata, kenapa kamu harus pusing sama masa depan anak. Sebagai ibu cuma bisa berjuang supaya anaknya tumbuh, di luar itu, masa depannya seperti apa, kita nggak usah pusing dan overthinking, itu udah kotaknya Allah'," tambahnya.
Nasihat tersebut menjadi titik balik yang membuat Shireen mulai memahami bahwa sebagai orang tua, dirinya hanya bisa memberikan pendampingan terbaik, sementara masa depan setiap anak merupakan ketetapan Tuhan.
Setelah melewati proses yang panjang, Shireen Sungkar mengaku kini lebih mampu menerima kondisi Cut Shafiyyah dengan hati yang lapang. Ia memilih mengalihkan fokus dari rasa kecewa menjadi semangat untuk terus mendampingi tumbuh kembang sang putri.
Shireen juga bersyukur karena tidak menjalani perjalanan tersebut seorang diri. Dukungan penuh dari suaminya, Teuku Wisnu, serta keluarga besar menjadi kekuatan yang membantunya bangkit dari masa-masa sulit usai diagnosis autisme diterima.
Kini, ia percaya bahwa setiap anak memiliki jalan hidupnya masing-masing. Sebagai orang tua, yang terpenting adalah terus memberikan kasih sayang, perhatian, dan dukungan tanpa henti.