Foto : Intipseleb / Ichsan

Ia juga menyisipkan elemen-elemen lain yang merepresentasikan perjalanan karier DNA. Tiang listrik dengan kabel berantakan menjadi metafora hidup yang ruwet, layangan Bali menandakan kejenakaan yang terus mengiringi mereka, sementara matahari menjadi simbol tujuan akhir untuk “menjadi bintang” tanpa kehilangan sikap rendah hati, yang tercermin lewat gambar air tenang dalam ilustrasi tersebut.

Kolaborasi bersama sejumlah musisi turut mewarnai proses produksi OURORA;. JayJax, yang juga berperan sebagai DJ dan produser DNA, dibantu oleh Gamaliel Abram Pradipta dan Alvagracia Immanuel dalam menyusun rangkaian trek demi trek.

“Merupakan mimpi semua musisi untuk bisa membuat full length album. Sangat senang dengan produk akhir yang kita bawakan ke dunia, dan aku rasa komposisi lagu-lagu yang ada di dalamnya sehat rasionya antar lagu ‘komersil’ dengan idealisme kita berdua sebagai DJ,” jelas JayJax.

Album OURORA menyuguhkan total 18 lagu dengan durasi keseluruhan 1 jam 48 menit. Pembuka album, Who tf are we, menjadi sketsa perkenalan tentang siapa DNA sebenarnya, lewat perbincangan kandid antara Mister Aloy dan JayJax mengenai diri mereka dan harapan ke depan.

Trek berikutnya, Quest of The Sea, menghidupkan kembali nuansa trap tradisional yang menjadi awal karier musik DNA, mengingatkan pada era perilisan Bass Up pada 2018. Judulnya yang secara harfiah berarti “Pencarian di Lautan” menggambarkan awal perjalanan duo ini.

Lagu bertransisi secara seamless ke Two Heads, yang terbagi menjadi dua bagian dengan dua drop kencang dari trap menuju techno. Trek ketiga, PAIN, menjadi kolaborasi pertama DNA dengan PARKZ, MC yang selama ini kerap mendampingi DNA dalam berbagai penampilan live.

PARKZ menyumbangkan suaranya di tiga lagu dalam album ini dan mengambil alih penuh penulisan liriknya, menghadirkan elemen emo dan punk yang membentuk karakternya, dibalut dalam nuansa techno.

Topik Terkait