Kehadiran mereka sekaligus mempertemukan kembali sejumlah pemain yang pernah bekerja sama dalam proyek sebelumnya. Kali ini, mereka akan menjelajahi cerita berbeda dengan nuansa emosional yang lebih berpusat pada hubungan orang tua dan anak.
Terinspirasi dari Pengorbanan Ikan Stickleback
Judul Gasigogi terinspirasi dari ikan stickleback, yang dikenal memiliki perilaku pengasuhan unik. Dalam kisah yang menjadi landasan film ini, ikan jantan menjaga telur-telurnya seorang diri, melindunginya dari predator hingga mengorbankan kekuatan tubuhnya sendiri.
Pengorbanan tersebut menjadi metafora tentang cinta tanpa pamrih. Seperti ikan yang berjuang demi kelangsungan hidup keturunannya, Jiwa digambarkan sebagai ayah yang bersedia memberikan segalanya untuk menyelamatkan Juna.
Melalui simbol tersebut, Gasigogi tidak hanya bercerita tentang perjuangan menghadapi penyakit, tetapi juga tentang arti kasih sayang, tanggung jawab, dan besarnya pengorbanan orang tua demi anak yang dicintai.
Sutradara Lee Hwan-kyung pun memiliki ikatan personal dengan cerita ini. Jika Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia merupakan hadiah untuk putrinya, Gasigogi dipersembahkan secara khusus untuk putranya.
Lee mengungkapkan bahwa dirinya ingin menghadirkan kisah yang jujur dan menyentuh, sekaligus menjadi pengingat bagi penonton mengenai arti kehadiran seorang ayah dalam kehidupan mereka.