IntipSeleb – Belakangan ini ceramah dari ustazah Oki Setiana Dewi tentang KDRT viral dan menjadi polemik di masyarakat. Pasalnya, dari ceramah tersebut, ustazah Oki diduga menormalkan tindakan KDRT.
Terkait hal tersebut, Barbie Kumalasari dimintai pandangan terkait KDRT. Mengejutkan, bahwa ternyata Barbie mengaku bahwa ia pernah mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Lantas bagaimana pandangan Barbie terhadap KDRT? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Pernah alami KDRT
Pemilik nama lengkap Kumalasari Mukhlisah itu berkesempatan untuk memberikan tanggapan terkait KDRT.
Mantan Galih Ginanjar itu berpendapat bahwa bercerita terkait KDRT yang dialami itu diperbolehkan. Namun sedihnya, Barbie Kumalasari juga mengaku bahwa dirinya pernah alami KDRT.
“Tergantung kapan dan di mana kita menceritakannya. Aku pernah di sebuah artikel dan bintang tamu, aku ditanya masalah rumah tangga aku sebelumnya. Aku juga salah satu orang yang mengalami KDRT. Tapi ya tidak baik juga kalau itu kalau kita umbar terus-terusan,” ungkap Barbie dilansir oleh IntipSeleb melalui Channel Youtube KH Entertainment, Minggu, 6 Februari 2022.
“Kalau cuma diceritain satu kali oke lah dan tergantung tempatnya (tempat menceritakannya) juga,” lanjut Barbie.
Aktris berusia 39 tahun itu berpendapat bahwa menceritakan KDRT yang dialami ke keluarga adalah yang utama.
“Menurut aku cerita ke keluarga itu penting, keluarga itu kan satu darah. KDRT itu kan sudah kekerasan fisik, sudah pidana jadi menurutku itu harus diceritakan, tapi kalau ke publik ya tergantung,” jelas Barbie Kumalasari terkait pandangannya terhadap KDRT.
Keputusan pasca KDRT harus dipikirkan secara matang
Menurut Barbie Kumalasari, jika seseorang ditanyai terkait kondisinya setelah alami KDRT, maka harus jujur menceritakan apa adanya.
“Kalau ngalamin KDRT ya kita kan gak mungkin bohong juga, masa bilang enggak kok suami saya baik. Itu tergantung di mana dan pada siapa,” ucap Barbie.
Seseorang alami KDRT jika sampai luka-luka, maka harus diekspos dan tidak bisa mempertahankan laki-laki seperti itu.
“Kalau tindakan kekerasan itu sampai fatal, misalkan biru, mengakibatkan luka-luka yang sangat dalam, sampai luka robek terus dijahit ya mungkin itu, mau gak mau dibicarakan dan terekspos. Kalau laki-laki yang KDRT gak bisa dipertahankan,” tegas Barbie.
Kendati demikian, Barbie berpendapat bahwa keputusan yang diambil pasca alami KDRT harus dipikirkan secara matang, sebab tak hanya diri sendiri saja yang merasakan dampaknya, namun anak pun bisa menjadi korban.
“Kadang-kadang, anak sih terutama, itu efek paling nomor satu yang bisa mengakibatkan psikisnya terganggu, belum lagi lingkungan sekolah.” Kata Barbie.
Lebih lanjut, Barbie mengungkapkan bahwa tindakan KDRT itu tak sepenuhnya salah suami, karena bisa juga dari sikap istri yang miliki banyak tuntutan
“Walaupun kalau kita mengalami KDRT kita gak bisa menyalahkan suami seratus persen, kadang-kadang kan bisa juga istrinya terlalu banyak tuntutan, permintaan, keinginan. Makanya kalau bisa dibicarakan baik-baik, ya soalnya kalau punya anak kan banyak hal yang bisa dikorbankan,” tutup Barbie Kumalasari terkait pandangannya terhadap kasus KDRT. (way)