img_title
Foto : Dok pri

IntipSeleb – Teknologi Artificial Intelligence (AI) kini berperan lebih dari sekadar alat bantu menulis. Pengalaman para penulis Diamond KBM App saat menjelajah Korea Selatan membuktikan bahwa AI menjelma menjadi asisten pribadi yang memudahkan riset, menjaga kehalalan konsumsi, hingga membantu navigasi di tengah padatnya kota Seoul.

Di era digital, profesi penulis mengalami transformasi signifikan. Penulis KBM App tidak lagi hanya mengandalkan intuisi dan kemampuan merangkai kata, tetapi juga memanfaatkan teknologi AI untuk mempercepat riset, membedah ide, menyunting naskah, hingga menemukan terminologi langka dalam hitungan detik. Proses yang sebelumnya memakan waktu berhari-hari kini bisa selesai jauh lebih efisien.

Namun, pengalaman berbeda muncul ketika para penulis Diamond KBM App, Bunga BTP, Dwi Indrawati, Majarani, Ka_Umay, Yazmin_Aisyah, FebriYthi, Julli_Nobasa, dan Lebah Ratih—melakukan perjalanan ke Korea Selatan bersama Asma Nadia. Dalam perjalanan ini, AI tidak lagi sekadar mendukung produktivitas menulis, tetapi hadir sebagai solusi praktis dalam berbagai situasi sehari-hari.

Tantangan utama yang langsung dirasakan para penulis di Korea Selatan adalah perbedaan bahasa dan kepastian kandungan makanan. Saat memasuki minimarket dengan deretan produk menarik, keraguan pun muncul, “Ini halal tidak ya?”

AI kemudian mengambil peran krusial. Para penulis cukup memotret daftar komposisi makanan yang tertulis dalam huruf Hangeul. Dalam hitungan detik, teknologi pemindaian OCR bekerja menerjemahkan setiap istilah yang tercantum. AI tidak hanya mengalihbahasakan, tetapi juga menganalisis kandungan produk secara detail, termasuk potensi adanya lemak babi, alkohol, atau turunan gelatin yang meragukan.

Pendekatan ini menjadikan AI sebagai filter iman digital. Wisata kuliner pun terasa lebih aman, nyaman, dan bebas dari kekhawatiran berlebihan.

Pengalaman unik juga muncul saat para penulis berhadapan dengan teknologi lokal Korea Selatan, salah satunya toilet modern dengan bidet canggih. Puluhan tombol bertuliskan Hangeul sering kali membuat pengguna bingung dan berisiko salah tekan.

Di sinilah AI kembali berperan. Dengan fitur terjemahan real-time, kamera ponsel cukup diarahkan ke tombol bidet, lalu instruksi penggunaan langsung muncul dalam bahasa Indonesia yang mudah dipahami. Aktivitas sederhana pun menjadi lebih aman dan praktis.

Selain itu, sistem keamanan Korea Selatan dikenal sangat responsif. Ponsel kerap mengeluarkan suara nyaring berisi pesan darurat dari pemerintah setempat. Alih-alih panik karena tidak memahami isinya, para penulis langsung mengambil tangkapan layar dan meminta AI menerjemahkannya. Informasi terkait debu halus, cuaca ekstrem, atau pengumuman publik pun bisa dipahami dengan cepat dan akurat.

Di tengah padat dan kompleksnya kota Seoul, AI kembali menunjukkan keunggulannya melalui aplikasi peta pintar. Teknologi ini tidak hanya menunjukkan arah, tetapi juga merekomendasikan rute tercepat, moda transportasi paling efisien, serta estimasi biaya perjalanan secara detail.

Dengan bantuan AI, ketidaktahuan tidak lagi menjadi penghalang. Hambatan bahasa runtuh, kekhawatiran soal kehalalan bisa diminimalkan, dan mobilitas di kota besar terasa jauh lebih terkendali.

Perjalanan para penulis Diamond KBM App ke Korea Selatan menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi AI secara bijak mampu meningkatkan kualitas hidup sekaligus ketenangan dalam beribadah. AI tidak hanya mempercepat proses kreatif, tetapi juga menghadirkan rasa aman dalam aktivitas sehari-hari.

Pengalaman ini diharapkan bisa menginspirasi lebih banyak penulis dan kreator untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Di masa depan, penulis hebat bukan hanya mereka yang piawai bercerita, tetapi juga mereka yang cerdas memanfaatkan teknologi untuk menaklukkan dunia.

Topik Terkait