img_title
Foto : YouTube HAS Creative

Beberapa akun menyampaikan komentar keras terhadap sikap yang dianggap tidak berpihak pada korban.

"Bukan kesan, tapi emang enabler. Tutup mata dan cuci tangan, pura-pura enggak tahu. Pakai bawa kasus Gofar, lupa apa kalau Gofar juga rekam tanpa consent, pamer bodycount, dan nunjukin sex tapenya ke temen-temennya," tulis netizen.

"Yaa bukan 'kesannya' lagi itu mah, emang enabler! Mereka bisa toleransi rape culture asal duit tetap muter!" uja rwarganet.

"Setuju sama dr Tirta. Walaupun se-circle harusnya brand lokal bikin statement/sikap bahwa mereka stay with victim. Soal bener atau salah itu belakangan. Kalau sikapnya netral itu tanda enggak peka dengan apa yang dialami korban. Mau menjaga citra brand sih sah-sah aja, tapi jangan karena setia kawan (satu circle) terkesan jadi enabler," ujar akun yang lain.

Istilah enabler pun menjadi kata kunci yang ramai diperbincangkan dalam kasus Mohan Hazian ini.

Mengacu pada Healthline, istilah enabler umumnya menggambarkan seseorang yang melalui perilakunya memungkinkan orang yang dicintainya untuk terus menjalankan pola perilaku yang merusak diri sendiri.

Istilah ini kerap memunculkan stigma karena publik sering melekatkan penilaian negatif terhadapnya. Dalam banyak kasus, konsep ini muncul dalam konteks penyalahgunaan zat atau kecanduan alkohol dan narkoba.

Topik Terkait