Satu dekade lalu, banyak kalangan yang mampu secara finansial lebih memilih menjalani prosedur estetika di luar negeri, terutama Korea Selatan dan Thailand. Alasannya sederhana: dokter dengan pengalaman internasional dan teknologi terkini lebih mudah ditemukan di sana.
Situasinya bergeser. Kini semakin banyak dokter spesialis Indonesia yang menempuh pelatihan di luar negeri lalu kembali membuka praktik di dalam negeri. Beautylogica, misalnya, mengklaim timnya terdiri dari dokter spesialis dengan pengalaman internasional. Ini menjadi bagian dari tren yang lebih besar, di mana standar layanan estetika dalam negeri pelan-pelan menyamai apa yang selama ini hanya bisa ditemukan di luar negeri.
Konsekuensinya langsung terasa pada harga. Pasien tidak perlu lagi menanggung biaya tiket, akomodasi, dan risiko perawatan pascaprosedur di negara orang. Semua bisa dilakukan lebih dekat dari rumah.
Bertambahnya jumlah klinik estetika yang beroperasi secara profesional mendorong persaingan yang lebih sehat. Klinik berlomba menawarkan value terbaik bagi pasien, dan salah satu caranya adalah dengan lebih transparan soal harga.
Ini berbeda dengan kondisi beberapa tahun lalu, ketika harga sering kali tidak dipublikasikan secara terbuka dan calon pasien harus datang dulu untuk konsultasi sebelum tahu kisaran biayanya. Model seperti itu membuat perbandingan harga sulit dilakukan dan tidak jarang membuat orang mengurungkan niat.
Transparansi harga, ditambah hadirnya konsultasi awal yang lebih mudah diakses, termasuk program konsultasi gratis yang ditawarkan Beautylogica dalam periode grand opening-nya, membuat calon pasien bisa membuat keputusan yang lebih matang tanpa tekanan.
Ada anggapan umum bahwa klinik di kawasan elit otomatis menetapkan harga elit. Kenyataannya tidak selalu demikian, terutama untuk klinik yang membangun skala operasi yang efisien.