img_title
Foto : Instagram/@ernestprakarsa

Sebagai korban rasisme, ayah dua anak itu awalnya benci terhadap orang yang menghinanya karena lahir sebagai keturunan Tionghoa. Padahal, ras yang dimilikinya itu bukan pilihan Ernest sendiri. Pengalaman mendapat perlakuan berbeda karena terlahir Tionghoa itu tertuang dalam sebuah judul film Ngenest.

"Ketika tumbuh besar gue mikir, salah gue apa sih? Gue gak salah apa-apa, gue cuma salah lahir aja gitu, lahir China sampai mati gue akan jadi China. Dan gue mengalami diskriminasi karena sesuatu yang gak gue pilih," ujarnya.

Tapi semakin tumbuh dewasa, pemeran Susah Sinyal itu semakin mempelajari kenapa dirinya diperlakukan rasis hanya karena berbeda dengan masyarakat Indonesia lainnya. 

Saran Ernest Prakasa

Ernest Prakasa

Melanjuti bahasan soal isu rasisme yang sangat kompleks, komedian 38 tahun itu menjelaskan perbedaan rasis di Amerika Serikat dan di Indonesia. Kata Ernest, setiap negara memiliki akar sejarah tersendiri mengapa diskriminasi itu muncul kepada mereka yang dianggap tidak sama.

"Bahkan rasisme di Amerika dan di sini juga beda, maksudnya terhadap warga kulit hitam di sana 'oh orang kulit hitam itu kriminal atau cenderung berbuat kekerasan', sementara rasisme sama orang China di Indonesia itu 'oh orang China itu pelit, ekslusif, gak mau bergabung sama pribumi dan lain sebagainya' dan ini akar sejarahnya masing-masing berbeda," tuturnya.

Topik Terkait