Foto : Instagram

Dan yang kerap disalahpahami adalah di mana letak tantangan sebenarnya antara lain adalah perusahaan umumnya merencanakan dari sisi media-CDN egress, beban konkurensi dari siaran langsung itu sendiri dan bagian ini relatif sudah dipahami dengan baik.

“Yang justru biasanya gagal adalah sisi transaksional: jutaan pengguna mendaftar secara bersamaan, menunggu OTP, membeli paket, lalu mencoba ulang melalui kanal pembayaran kedua ketika kanal pertama mengalami timeout,” ungkap Tommy.

“Bertahan menghadapi ajang siaran langsung berskala besar sama besarnya merupakan persoalan penskalaan identitas dan pembayaran, bukan sekadar pengiriman video,” terangnya.

Selain itu, dukungan perangkat untuk keamanan konten juga merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan untuk memajukan ekosistem layanan streaming Indonesia lebih jauh berkembang lagi.

“Pembajakan, dan bukan hanya karena alasan yang umum diketahui. Selain hilangnya pendapatan bagi pemegang hak, ekosistem pembajakan di Indonesia sarat dengan malware dan infostealer,” ujar Tommy.

“Konten premium, terutama film yang baru tayang membutuhkan DRM berbasis perangkat keras dan HDCP. Dukungan untuk proteksi tersebut masih di bawah 90 persen pada televisi pintar (connected TV) dan di bawah 65 persen pada perangkat seluler di Indonesia,” lanjutnya.

“Hal ini membatasi kualitas konten yang dapat disajikan kepada konsumen Indonesia. Yang membuka akses ke tingkatan layanan premium adalah perbaikan komposisi perangkat, bukan sekadar bandwidth,” ulas Tommy.

Topik Terkait