IntipSeleb – Wajah di layar itu memang milik dr. Incognito. Yang bukan miliknya adalah ulah si wajah, menjajakan bahan berbahaya. Wajah sang dokter diambil, dipasang pada konten buatan kecerdasan buatan (AI), lalu dipakai berdagang.
Bertahun-tahun dokter yang dikenal sebagai kreator konten skincare ini membangun reputasi. Ia mulai rajin mendatangi acara skincare dan fashion pada 2011, ketika masih bersekolah. Penghasilan pertama datang sekitar 2014, dan baru pada 2017 pendapatannya stabil. Kini, apa yang ia bangun lebih dari satu dekade itu dipinjam paksa oleh pihak yang tak pernah meminta izin.
“Sedih banget, wajahku kan dicuri, ga ada izin ga ada apa tiba-tiba diambil paksa,” kata dr. Incognito melalui keterangannya.
Pencatutan itu, menurut dia, datang dalam beberapa rupa. Ada yang memakai wajahnya tetapi menyematkan nama orang lain. Ada pula yang lebih parah, memakai nama sekaligus gelarnya.
“Ada yang pakai mukaku tapi nama orang lain. Yang lebih parah yang pakai namaku dan pakai gelarku juga, itu namanya mencuri identitas dan kredibilitasku,” ujarnya.
Luka yang paling dalam ada pada tujuan pencurian itu.
“Paling sedihnya, pencurian tersebut dipakai untuk jualan bahan berbahaya,” kata dr. Incognito.
Ketimpangan di baliknya terasa telak baginya.
“Yang jual dan mencuri dari aku ga kenapa-kenapa, sedangkan aku yang harus menanggung ruginya, korbannya. Tapi ya gimana, namanya perkembangan zaman," ujarnya.
Upaya perlawanan sejauh ini terbatas. Ia disarankan melakukan verifikasi wajah, tetapi ragu menjalaninya. Kekhawatirannya sederhana, dan agak getir.
“Sejauh ini ga banyak, sih, jujur. Aku mikir, kan IG dan TikTok juga operated by AI, bukannya kalau aku scan wajahku jadinya malah makin mudah buat orang nyuri mukaku lewat AI?,” katanya.
Ia memilih berpegang pada hal lain. Di luar itu, ia menambahkan satu taktik yang ia sendiri tak yakin hasilnya.
“Jadi sekarang aku mengandalkan kredibilitas. AI kan ga bisa ada lisensi, gelar, dan sebagainya. Walau aku ragu works apa nggak, aku perkuat kemanusiaanku. Empati, tidak sempurna, ganti-ganti angle, be unpredictable," katanya.
Pilihan itu punya ironi yang tak bisa diabaikan, sebab nama “Incognito” lahir dari keinginan serupa, agar yang dilihat orang bukan tampangnya. Ia lelah, katanya, karena sebenar apa pun ilmu yang disampaikan, perhatian orang selalu tersedot ke latar dan fisiknya.
“Aku ingin dihargai dari ilmuku karena memang itu yang paling susah aku dapetin," ujarnya.
Incognito berarti penyamaran. Ia sadar pilihan itu janggal untuk seorang dokter. Inspirasinya datang dari Johan Liebert, tokoh dalam anime Monster. Maka, seorang dokter yang menyamar agar ilmunya yang dilihat kini mendapati wajahnya sendiri dipakai orang lain.
“Agak aneh, I know, karena dokter itu harus transparan, sedangkan incognito itu shady,” ucapnya.
Di tengah situasi itu, pesannya kepada masyarakat justru bukan soal menjauhi AI. Alasannya ia dapat dari pengalaman.
“Justru harus sering-sering lihat AI dan harus sering-sering lihat yang asli juga. Kalau kebanyakan lihat AI, lupa yang asli kayak apa. Lucunya, kalau kebanyakan lihat yang asli juga ga tahu itu AI. Dari pengalamanku, kalau lihat dua-duanya banyak, malah lebih gampang bedainnya," katanya.
Di zaman ketika wajah bisa dipinjam tanpa izin, dr. Incognito memilih bertahan dengan hal-hal yang sulit ditiru, gelar dan lisensi yang tak bisa dimiliki mesin, sifat manusia yang tak pernah sempurna, dan ilmu yang, katanya, paling sulit ia dapatkan.