Foto : Freepik/ freepik

IntipSelebKanker merupakan salah satu penyakit yang mematikan dan patut diwaspadai. Perjuangan melawan kanker juga bukan hal yang mudah. Maka dari itu, lahirlah Hari Kanker Sedunia yang diperingati setiap 4 Februari.

Hari Kanker Sedunia sendiri merupakan bentuk dukungan serta upaya untuk meningkatkan kesadaran publik akan bahaya kanker dan pentingnya mengetahui pencegahan kanker.

Lantas, apa itu kanker, seperti apa gejalanya dan bagaimana pengobatannya? Yuk simak ulasan selengkapnya yang dirangkum dari kanal YouTube Kata Dokter berikut ini!

Apa Itu Kanker?

Foto : Freepik/ freepik

Menurut pemaparan dr. Endang Nuryadi, Sp. Onk.Rad(K), Ph.D, kanker adalah suatu penyakit yang paling mematikan di dunia. Dalam setiap 1,1 detik setidaknya ada satu orang terdiagnosa kanker. Dan setiap 2 detik, ada satu kematian karena kanker.

Angka kejadian kanker sendiri meningkat drastis yaitu pada 2008 sebanyak 12,6 juta jiwa dan diprediksi pada tahun 2040 angka kejadian kanker mendekati 30 juta.

“Kanker akan menjadi sebab kematian 1 dari 6 orang, dan 70 persen kejadian kanker terutama terjadi pada negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, kanker menjadi pembunuh terbanyak nomor 3 setelah stroke dan jantung,” kata dokter Endang dikutip dari kanal YouTube Kata Dokter pada Senin, 5 Februari 2024.

Di Indonesia juga kurang lebih angka kejadian kanker mencapai hampir 400 ribu per tahun. Dan 5 penyakit kanker terbanyak di Indonesia di antaranya adalah, kanker payudara, kanker mulut rahim atau kanker serviks, kanker paru, kanker kolorektal dan kanker sel hati.

Menurut data, terbukti bahwa kasus kejadian kanker sendiri lebih banyak terjadi pada perempuan daripada pria. Kasus kanker pada perempuan lebih banyak 1,5 kali lipat dibandingkan dengan pria.

Untuk mengetahui apa itu kanker, pembahasan terkait tumor penting untuk diketahui terlebih dahulu. Tumor adalah semua benjolan yang pertumbuhannya tidak normal dalam tubuh kita.

Tumor sendiri ada dua, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Tumor ganas itulah yang disebut dengan kanker. Jadi tumor ganas dan kanker itu sama. Tapi, bagaimana cara mengetahui sebuah tumor jinak atau ganas?

dr. Endang menjelaskan bahwa tingkat keganasan tumor dapat diketahui lewat pemeriksaan laboratorium patologi anatomi.

“Dari jaringan tumor yang diambil melalui proses operasi ataupun biopsi kemudian jaringan tersebut dilihat di dalam mikrokop patologi anatomi untuk dinilai karakteristik jaringan tersebut, apakah jinak atau ganas,” ungkapnya.

Secara gejala pun terlihat perbedaan antara tumor jinak dan tumor ganas. Benjolan tumor jinak bisa menetap belasan tahun tanpa mengalami pembesaran yang signifikan dan tidak ada penyebaran ke organ lain.

Sementara kalau tumor ganas atau kanker itu bisa membesar dengan sangat cepat, baik itu dalam hitungan bulanan, mingguan bahkan harian serta mempunyai kemampuan menyebar ke organ lain.

Jadi kesimpulannya, kanker merupakan pertumbuhan sel yang tidak normal dan tidak terkontrol di dalam tubuh manusia.

Dalam istilah kanker, dikenal istilah stadium yang menunjukkan kegawatan kanker dalam tubuh pasien. Stadium kanker itu adalah suatu tingkatan keparahan dari penyakit kanker. Kanker sendiri terdiri dari 4 stadium.

“Stadium kanker dinilai dari 3 aspek, ukuran kanker, apakah kanker tersebut ada penjalaran ke kelenjar getah bening di sekitarnya, apakah ada penyebaran ke organ lain atau metastasis? Apabila ada mestasis maka stadiumnya 4,” kata dr. Endang.

Cara Mengetahui Gejala Kanker

Foto : Pinterest

Gejala yang timbul pada setiap kanker akan berbeda tergantung bagaimana munculnya kanker tersebut. Secara umum kita harus mewaspadai gejala kanker. Ada sebuah tagline dari kementerian kesehatan RI yaitu Waspada yang membantu masyarakat mengetahui gejala kanker yang dapat dideteksi sejak dini, di antaranya.

  1. Waktu buang air besar atau kecil yang ada perubahan kebiasaan atau gangguan
  2. Alat pencernaan terganggu dan susah menelan
  3. Suara serak atau batuk-batuk yang tak sembuh-sembuh
  4. Payudara atau di tempat lain ada benjolan
  5. Ada tahi lalat yang berubah sifatnya menjadi lebih besar dan gatal
  6. Darah atau lendir yang abnormal keluar dari tubuh
  7. Ada koreng atau borok yang tidak mau sembuh

Bila ada gejala tersebut segera periksakan ke dokter untuk pemeriksaan lebih detail. Jangan menunda pemeriksaan agar tidak terjadi keterlambatan pengobatan.

Kanker bisa disembuhkan dan semakin rendah stadium yang ditemukan pada saat berobat maka angka kemungkinan sembuhnya akan semakin besar.

“Sebagai contoh pada penyakit kanker payudara, angka kesembuhan selama 5 tahun pada stadium 1 adalah 98 persen, stadium 2 ada 85-90 persen, stadium 3 angkanya menjadi 30-70 persen, dan pada stadium 4 angka kesembuhan hanya 27 persen,” papar dr. Endang Nuryadi.

Kanker menjadi sulit disembuhkan apabila seseorang itu menunda datang berobat dengan berbagai alasan atau berusaha mencari pengobatan alternatif sendiri, sehingga pada saat datang berobat ke rumah sakit stadiumnya sudah tinggi sehingga keberhasilannya akan jauh lebih sulit.

Cara Deteksi Dini Kanker

Foto : Freepik/ jcomp

Deteksi dini atau yang disebut screening kanker adalah suatu usaha dalam mendeteksi potensi terjadinya kanker. Screening itu adalah suatu hal yang seharusnya rutin dilakukan, tujuannya adalah apabila terdapat ketahuan bahwa ada kanker maka ketahuannya pada stadium yang mini sehingga apabila stadiumnya serendah mungkin maka keberhasilan pengobatan akan lebih baik.

Deteksi dini tergantung pada organ apa saja yang akan diperiksakan. Untuk kanker payudara, contohnya pada wanita bisa melakukan pemeriksaan yang sederhana yaitu Sadari (Periksa Payudara Sendiri) yaitu dengan meraba payudaranya sendiri.

Kemudian pada wanita usia 40 tahun ke atas bisa melakukan pemeriksaan radiologi mamografi tapi pada wanita di bawah usia 40 tahun belum dianjurkan untuk pemeriksaan mamografi dikarenakan jaringan payudara masih padat.

Kemudian untuk kanker kulit, ada Sakuri (Periksa Kulit Sendiri), apakah ada sesuatu yang tidak beres atau tidak biasa terhadap kulitnya. Sementara untuk kanker kolorektal atau kanker saluran cerna usus besar dapat dilakukan kolonoskopi atau teropong usus.

Lalu, untuk kanker serviks atau kanker mulut rahim, bagi wanita yang sudah menikah dapat dilakukan pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat atau juga papsmear test secara rutin. Dan untuk kanker paru bisa dilakukan screening rontgen dada yang biasa rutin dilakukan pada saat general check.

Kanker itu bisa dicegah. Ada tagline yang digalakkan oleh Komite Penanggulangan Kanker Nasional Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yaitu Cerdik (Cek kesehatan rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin olahraga, Diet seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola stres).

Metode Pengobatan Kanker

Foto : Freepik/ freepik

Pengobatan kanker itu dilakukan secara multi-disiplin artinya ada berbagai spesialis yang ikut terlibat dalam pengobatan kanker. Ada 3 pilar utama dalam pengobatan kanker: operasi, kemoterapi atau terapi sistemik, dan radioterapi atau terapi radiasi.

1. Operasi

Kanker itu apabila memungkinkan harus diangkat sebanyak-banyaknya dan sebersih mungkin dengan pembedahan. Tapi, masalahnya tidak semua kanker dapat dioperasi. Bila kanker sudah meluas terlalu besar akan sulit dioperasi.

2. Kemoterapi

Kemoterapi adalah terapi sistemik dengan obat-obatan kemoterapi atau obat anti kanker yang diinfus ke dalam darah. Selain untuk mematikan sel kanker juga dapat mencegah penyebaran kanker atau metastasis

3. Radioterapi

Radioterapi atau terapi radiasi adalah terapi dengan menggunakan sinar radiasi pengion untuk mematikan sel kanker. Contoh, apabila suatu kanker sudah diangkat oleh dokter yang melakukan operasi apakah sel-sel kanker yang tidak tampak oleh mata dapat juga dipastikan sudah terangkat? Belum tentu. Di situlah peranan radioterapi untuk mematikan sel-sel kanker mikroskopik yang tidak kasat mata.

Juga apabila kankernya sudah terlalu besar, sehingga tidak mungkin dilakukan operasi atau lokasi kanker yang tidak mungkin dilakukan operasi karena sulit lokasinya, maka radioterapi menjadi pilihan utama dalam pengobatan kanker. Pengobatan kanker itu juga menyesuaikan stadiumnya, jadi akan berbeda pengobatannya antara stadium 1 dengan stadium 4. (bbi)

Topik Terkait