Foto : Spektakel.id

IntipSeleb – Baru-baru ini, media sosial digegerkan dengan keberadaan segerombolan orang yang berjejer di tepian jalan raya dengan membawa sapu di kawasan Indramayu. Orang-orang tersebut disebut sebagai penyapu koin karena mereka akan mengais koin pemberian pengendara yang melintasi jalan tersebut.

Akan tetapi, sebagian pengendara merasa keberadaan para penyapu koin di Indramayu ini mengganggu kelancaran lalu lintas. Bahkan sebuah akun X bernama @hahingang_ sempat mengunggah momen para penyapu koin dan menyebut tradisi tersebut sebagai budaya yang tidak baik.

Tapi, apa sih sebenarnya yang dilakukan oleh para penyapu koin di Indramayu tersebut dan seperti apa kisah di balik tradisi tersebut? Penasaran? Yuk simak selengkapnya berikut ini!

Legenda Saedah Saenih

Ternyata, tradisi menabur uang koin yang kemudian disapu tidak lepas dari kepercayaan masyarakat dan sebagian pengendara yang masih meyakini bahwa ritual tabur koin akan memberikan keselamatan bagi mereka.

Tradisi ini rupanya muncul dari sebuah kisah tragis di balik cerita mistis yang menyelimuti jembatan Kali Sewo, yang terletak di antara Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Subang.

Dulu, di sebuah desa yang diyakini berada di Indramayu, hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari pria bernama Sarkawi, serta istri dan kedua anaknya, yakni Saidah dan Saeni.

Beberapa har di rumah, Sarkawi lantas pergi mencari nafkah, sedangkan sang istri pergi ke pasar. Sebelum berangkat, sang istri yang bernama Maimunah berpesan untuk tidak menggunakan beras dan uang. Tapi karena Saeni lapar, Saidah pun akhirnya memasak nasi.

Mengetahui beras dan uangnya habis, sekembalinya dari pasar Maimunah pun kesal. Saidah dan Saeni lantas dimarahi dengan kasar oleh sang ibu. Tak terima dimarahi oleh Maimunah, Saidah dan Saeni memutuskan untuk pergi, namun Maimunah pura-pura sadar dan meminta maaf kepada kedua anaknya.

Berniat untuk menyingkirkan Saedah dan Saenih, Maimunah lanta mengajak kedua anaknya untuk jalan-jalan keliling kota. Ketika malam tiba, Maimunah pun meninggalkan Saedah dan Saenih di tengah-tengah hutan.

Secara misterius, Saenih kemudian didatangi oleh seorang kakek yang memberinya petunjuk bahwa Saenih akan menjadi penari ronggeng terkenal dan Saedah akan menjadi pembuat gendangnya. Namun sebelumnya, Saenih harus mengadakan ritual perjanjian buaya putih.

Setelah Saenih menjadi penari ronggeng dan Saedah menjadi penabuh genderang, kehidupan mereka sangat memuaskan hingga batas waktu yang telah ditentukan.

Seiring berjalannya waktu, seorang kakek misterius datang menagih janjinya, Saenih kemudian berubah menjadi buaya putih dan terjun ke Kali Sewo. Melihat Saeni berubah wujud, Saidah lalu memberitahu orangtuanya di rumah. Tanpa menunggu waktu, Sarkawi dan istrinya langsung menuju ke Kali Sewo.

Sarkawi kemudian terjun ke sungai dan menjelma menjadi bale kambang atau balai (sejenis tempat tidur yang terbuat dari kayu) yang mengapung di Kali Sewo. Maimunah yang turut terjun kemudian berubah menjadi bambu. Saidah ditinggal sendirian, karena merasa lemah dan putus asa, ia pun tertidur dan berganti wujud menjadi bunga cempaka putih.

Secara umum, sejarah Saedah dan Saenih versi ini adalah yang paling dikenal oleh masyarakat pesisir utara Jawa Barat mulai dari Cirebon hingga sebagian wilayah Karawang. Karena cerita tersebut, maka adalah ritual 'melempar uang' atau disebut juga penggalian dalam istilah lokal.

Namun ada juga yang mengatakan bahwa ritual menebarkan uang logam atau membuangnya adalah untuk memberikan saweran kepada Saedah dan Saenih. Dahulu, Saidah dan Saeni diyakini selalu menampilkan kesenian Ronggeng dengan Saidah sebagai penabuhnya. Kesenian tradisional ini selalu mereka tampilkan di pinggir jalan sekitar jembatan Kali Sewo.

Selain buaya putih atau cerita Saedah dan Saenih, ritual membuang uang juga dikaitkan dengan sosok Kuntilanak yang menunggu di jembatan ini. Konon semua makhluk halus yang ada tidak akan mengganggu jika orang yang lewat membuang uang. Masyarakat juga sangat percaya bahwa mereka yang meminta atau menyapu uang di sekitar jembatan ini adalah penjelmaan makhluk halus yang tinggal di Kali Sewo.

Tradisi Lempar Koin

Foto : Spektakel.id

Tidak jelas kapan ritual melempar uang ini mulai dilakukan, namun sebagian besar warga percaya bahwa membuang uang sudah ada sejak zaman Belanda. Cukup banyak warga yang berusia sepuh mengaku kerap melihat kakeknya membuang uang saat melintasi Jembatan Kali Sewo.

Kisah mistis Jembatan Kali Sewo pun semakin kental ketika kesenian tradisional Tarling sering menampilkan kisah ini pada awal tahun 1980-an. Apalagi suasana saat itu masih tergolong sepi dan belum sesibuk sekarang, tentu saja membuat cerita mistis di Jembatan Kali Sewo terdengar cukup seram.

Kisah Saedah dan Saenih merupakan salah satu cerita yang populer dan menjadi latar belakang kisah misteri Kali Sewo. Hal inilah yang membuat ritual melempar uang masih dipercaya dan bahkan kini semakin banyak orang yang ikut 'menunggu' di jembatan untuk mencari nafkah.

Topik Terkait