Film ini menampilkan berbagai konflik yang terasa nyata: kakak-adik yang bertengkar, tekanan ekonomi yang memaksa seseorang mengubur impian kuliah demi keluarga, hingga perjuangan seorang ibu mempertahankan rumah tangganya di tengah keterbatasan hidup.
“Semua sebenarnya karena mengenai keluarga. Ada kakak-adik yang berantem, masalah ekonomi, sampai mengurungkan cita-cita demi adik-adiknya. Yang paling penting, kebahagiaan itu sebenarnya ada di keluarga,” katanya.
Baim sengaja menjaga konflik dalam film tetap realistis agar penonton merasakan hubungan personal dengan cerita yang ditampilkan. Tidak ada drama yang berlebihan atau dibuat-buat. Hanya kisah yang bisa terjadi di rumah siapa saja.
Respons penonton sejak hari pertama penayangan membuat Baim terharu. Banyak yang menangis sepanjang film berlangsung dan masih terbawa suasana ketika keluar dari studio. Tidak sedikit pula yang langsung menghubungi orang tua, meminta maaf kepada saudara, bahkan kembali menjalin komunikasi dengan anggota keluarga yang sebelumnya renggang.
“Alhamdulillah ada yang minta maaf ke orang tua, ke adik, ke kakak. Itu yang paling berkesan buat saya. Memang manfaat film ini pengennya ke arah sana,” lanjutnya.
Bagi Baim, keberhasilan sebuah film tidak hanya soal angka penonton atau pendapatan box office. Dampak emosional yang ditinggalkan jauh lebih berharga.
“Kalau setelah nonton orang jadi lebih sayang sama keluarganya, itu sudah lebih dari cukup buat saya,” tutupnya.