Di sinilah peran para jurnalis menjadi penting untuk menyuarakan ketidakadilan, mewakili korban dari sebuah sistem sosial yang tak sempurna, hingga menjelma cermin bagi masyarakat. Para tokoh utama dimanusiakan, tampil natural, hingga terasa dekat dengan penonton. Yang tak berprofesi wartawan pun, bisa dengan mudah merasakan romantika jadi pekerja media.
Film ini pada akhirnya tak hanya menjadi corong bagi jurnalis. Ia mewakili suara hati istri, ibu, dan anak gadis di tengah pusara ketidakadilan hingga agama yang dijadikan aset dagang jelang Pemilu.
Pesan paling menohok ada di babak ketiga. Seorang perempuan membahas gelar Ibu bagi negeri India. "Kok bisa, di negeri Ibu, kaum hawa justru tidak aman dan perkosaan seolah dilazimkan?"
Fakta lain, sejak 2014, lebih dari 40 jurnalis terbunuh di India. Data ini menjadikan India salah satu negara paling mematikan bagi para jurnalis. Tak heran film ini mempertanyakan keamanan bagi jurnalis perempuan.
Sinopsis Writing with Fire
Film Writing with Fire berkisah tentang kehidupan tiga jurnalis perempuan yakni Meera Devi, Shyamkali Devi, dan Suneeta Prajapati, yang bekerja di koran mingguan Khabar Lahariya.