IntipSeleb – Ada sesuatu yang terasa berbeda dari malam-malam Ramadan dua dekade lalu. Bukan soal makanan, bukan soal dekorasi, melainkan soal kebersamaan yang tumbuh di depan layar kaca. Seluruh anggota keluarga duduk bersama, menonton program dakwah, mendengarkan tausiyah, lalu mendiskusikannya bersama sampai waktu sahur tiba.
Tradisi itu kini perlahan memudar. Masing-masing anggota keluarga tenggelam dalam layarnya sendiri: ada yang scrolling media sosial, ada yang menonton konten streaming pilihan masing-masing, ada yang bermain gim. Ramadan masih datang setiap tahun, tapi kebersamaannya terasa semakin tipis.
Pertanyaannya: apakah kita benar-benar sudah kehilangan tradisi itu, atau kita hanya lupa untuk memilihnya?
Menonton program dakwah bersama keluarga bukan sekadar aktivitas mengisi waktu. Ini adalah salah satu bentuk pendidikan spiritual yang paling alami dan tidak terasa menggurui, terutama bagi anak-anak.
Ketika seorang anak melihat orang tuanya larut mendengarkan tausiyah, ikut bersholawat, atau bahkan meneteskan air mata saat mendengar kisah yang menyentuh, mereka sedang belajar sesuatu yang tidak ada di buku pelajaran mana pun: bahwa iman itu dirasakan, bukan hanya dihafalkan.
Nilai-nilai yang tersampaikan lewat cerita dan tausiyah jauh lebih mudah dicerna dibanding ceramah satu arah dari orang tua. Anak menyerapnya tanpa sadar, dalam suasana yang hangat dan tidak menegangkan.
Salah satu hal yang sering terjadi setelah menonton program dakwah bersama adalah obrolan yang muncul secara organik. "Tadi penceramahnya bilang begini, Yah. Maksudnya gimana?" atau "Kisah tadi mirip banget sama yang kita alami waktu itu, Bun."
Dialog-dialog sederhana seperti itu adalah jembatan yang berharga antara generasi. Orang tua mendapat kesempatan untuk berbagi pandangan hidup; anak-anak mendapat ruang untuk bertanya tanpa merasa dihakimi. Ramadan, dengan suasananya yang lebih tenang dan reflektif, adalah waktu terbaik untuk membuka percakapan semacam itu.
Jujur saja: kita hidup di era di mana perhatian adalah komoditas yang diperebutkan. Setiap aplikasi, setiap platform, setiap notifikasi berlomba menarik mata kita. Keluarga yang duduk bersama pun belum tentu benar-benar bersama, masing-masing masih memegang ponsel.
Selain itu, program dakwah televisi kerap dianggap "tidak relevan" oleh generasi muda yang terbiasa dengan konten singkat dan serba cepat. Padahal, banyak program dakwah saat ini justru hadir dalam format yang lebih segar, lebih dekat dengan kehidupan nyata, dan lebih mudah dinikmati lintas usia.
Menghidupkan kembali tradisi ini tidak membutuhkan effort yang besar. Cukup dengan satu kesepakatan kecil: malam ini, kita nonton bareng.
Pilih program yang temanya dekat dengan kehidupan sehari-hari agar semua anggota keluarga bisa terhubung. Buat suasana nyaman—gelar sajadah, siapkan camilan, matikan notifikasi ponsel selama satu jam. Setelah selesai, ajak ngobrol santai—bukan kuliah, hanya obrolan biasa tentang apa yang tadi terasa bermakna. Jadikan rutin; bahkan sekali seminggu sudah cukup untuk membangun kebiasaan baru yang terasa berarti.
Kalau kamu sedang mencari titik awal yang baik, RCTI menghadirkan Tabligh Akbar "Penyejuk Hati" yang disiarkan secara live dari Masjid Agung Baitul Faidzin, Bogor. Program ini menggabungkan tausiyah dari para penceramah inspiratif, lantunan sholawat dari Hadroh Nurul Mustofa, hingga segmen "Curhat Jamaah" yang menghadirkan dialog hangat antara jamaah dan penceramah.
Format seperti ini menawarkan sesuatu yang relevan untuk ditonton bersama—karena tema-temanya dekat dengan kehidupan nyata, bukan ceramah yang terasa jauh dan formal. Ini bisa menjadi pintu yang bagus untuk memulai tradisi nonton dakwah bareng keluarga, atau menghidupkannya kembali setelah sekian lama.
Dua puluh sembilan atau tiga puluh malam Ramadan selalu terasa singkat. Dan setelah berlalu, yang paling sering kita rindukan bukan makanan berbukanya, melainkan momen kebersamaan itu.
Tradisi nonton dakwah bareng mungkin terdengar sederhana, bahkan kuno. Tapi di balik kesederhanaannya, tersimpan sesuatu yang sulit didapat dari mana pun: waktu bersama yang punya arah, yang mempererat bukan hanya hubungan antarmanusia, tapi juga hubungan tiap anggota keluarga dengan Tuhannya.
Malam ini, coba matikan layar masing-masing. Duduk bersama. Dan biarkan satu layar itu menyatukan kalian.