IntipSeleb – Pernah merasa gelisah ketika melihat teman sedang berkumpul, bepergian, menghadiri konser, atau menjalani kehidupan yang terlihat menyenangkan di media sosial? Jika pernah, bisa jadi kamu sedang mengalami Fear of Missing Out (FOMO).
FOMO merupakan kondisi ketika seseorang merasa takut tertinggal dari pengalaman menyenangkan yang dilakukan orang lain. Perasaan tersebut kemudian dapat mendorong seseorang untuk terus memantau media sosial agar tidak melewatkan informasi, tren, maupun aktivitas tertentu.
Dalam kajian ilmiah, FOMO berkaitan dengan kekhawatiran bahwa orang lain sedang mendapatkan pengalaman menyenangkan tanpa dirinya. Kondisi ini juga dapat membuat seseorang memiliki dorongan untuk terus terhubung dengan lingkungan sosialnya, termasuk melalui media sosial.
Media sosial dapat membuat FOMO semakin terasa karena pengguna terus-menerus melihat berbagai aktivitas orang lain. Padahal, apa yang muncul di linimasa umumnya hanya sebagian dari kehidupan seseorang.
Penelitian mengenai FOMO juga menemukan adanya hubungan antara FOMO dan penggunaan internet. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang mencakup 55.134 partisipan menemukan adanya hubungan antara FOMO dan penggunaan internet, meski pola hubungan tersebut dapat berbeda pada berbagai kelompok pengguna.
Lantas, bagaimana cara mengatasi FOMO akibat media sosial? Berikut lima langkah yang bisa dicoba.
1. Batasi Waktu Bermain Media Sosial
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengatur durasi penggunaan media sosial.
Kebiasaan membuka aplikasi secara berulang, terutama ketika sedang merasa bosan atau cemas, dapat membuat seseorang semakin sulit melepaskan diri dari linimasa. Cleveland Clinic menyarankan pengguna untuk mengenali kebiasaan tersebut dan menetapkan batas penggunaan media sosial.
Kamu bisa mulai dengan menetapkan waktu tertentu untuk membuka media sosial. Matikan pula notifikasi yang tidak penting agar tidak terus terdorong memeriksa ponsel.
2. Kenali Pemicu FOMO
Tidak semua unggahan di media sosial menimbulkan perasaan yang sama. Ada konten tertentu yang mungkin membuat seseorang merasa tertinggal, kurang berhasil, atau tidak cukup baik.
Karena itu, penting untuk mengenali apa yang menjadi pemicu FOMO. Misalnya, apakah perasaan tersebut muncul setelah melihat unggahan teman, konten liburan, pencapaian karier, gaya hidup, atau tren tertentu.
Mengenali pemicu dapat membantu seseorang menentukan langkah yang lebih tepat ketika perasaan tersebut muncul. Cleveland Clinic juga merekomendasikan identifikasi pemicu sebagai salah satu cara untuk menghadapi FOMO.
3. Ingat bahwa Media Sosial Bukan Gambaran Utuh Kehidupan
Salah satu hal penting yang perlu diingat adalah media sosial tidak selalu menunjukkan kehidupan seseorang secara lengkap.
Sebuah unggahan biasanya menampilkan momen yang memang ingin dibagikan. Sementara itu, berbagai masalah, kegagalan, rasa lelah, atau hari-hari biasa mungkin tidak ikut ditampilkan.
Karena itu, membandingkan kehidupan pribadi dengan potongan kehidupan orang lain di media sosial dapat membuat penilaian terhadap diri sendiri menjadi tidak objektif.
Kajian mengenai FOMO menunjukkan bahwa paparan terhadap aktivitas orang lain di media sosial dapat memicu perbandingan sosial dan membuat seseorang merasa kurang puas terhadap dirinya.
4. Fokus pada Kehidupan Sendiri
Daripada terus memikirkan apa yang sedang dilakukan orang lain, cobalah mengalihkan perhatian pada hal-hal yang memang penting bagi kehidupanmu.
Kamu bisa menghabiskan waktu bersama keluarga, bertemu teman secara langsung, berolahraga, menjalankan hobi, membaca buku, atau menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.
Fokus pada kehidupan nyata juga dapat membantu membangun rasa puas terhadap pengalaman yang sedang dijalani. Mengurangi penggunaan media sosial untuk sementara waktu bahkan dapat memberikan kesempatan untuk melihat kembali bagaimana waktu dan perhatian selama ini digunakan.
5. Coba Beralih dari FOMO ke JOMO
Jika FOMO berarti Fear of Missing Out, ada istilah lain yang bisa menjadi alternatif, yakni JOMO atau Joy of Missing Out.
JOMO menggambarkan perasaan nyaman ketika seseorang memilih untuk tidak mengikuti semua aktivitas, tren, atau percakapan yang sedang berlangsung.
Tidak mengikuti setiap tren bukan berarti kamu tertinggal. Begitu pula ketika tidak menghadiri semua acara atau tidak selalu mengetahui apa yang sedang viral.
Sesekali, memilih untuk offline justru bisa memberikan ruang untuk beristirahat dan menikmati kehidupan tanpa tekanan untuk selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Cleveland Clinic menyebut jeda dari media sosial dapat membantu seseorang memperoleh lebih banyak waktu, kejernihan, dan rasa syukur terhadap kehidupan yang dimiliki.
FOMO merupakan pengalaman yang cukup umum di tengah penggunaan media sosial yang semakin intensif. Namun, ketika dorongan untuk terus memeriksa media sosial mulai mengganggu aktivitas, waktu istirahat, hubungan sosial, atau membuat seseorang terus merasa cemas dan tidak cukup baik, kebiasaan tersebut perlu diperhatikan.
Penelitian terbaru juga menemukan hubungan antara problematic social networking use, FOMO, dan gejala kecemasan. Namun, hubungan tersebut tidak berarti setiap orang yang mengalami FOMO pasti mengalami gangguan kesehatan mental.
Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi alat untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi, bukan menjadi ukuran keberhasilan hidup seseorang.
Jadi, tidak apa-apa jika sesekali memilih untuk tidak tahu apa yang sedang viral. Tidak apa-apa pula melewatkan sebuah acara, tren, atau unggahan. Sebab, menikmati kehidupan yang sedang dijalani bisa menjadi jauh lebih penting daripada terus memastikan diri tidak ketinggalan.