img_title
Foto : IG

Ketimpangan di baliknya terasa telak baginya.

“Yang jual dan mencuri dari aku ga kenapa-kenapa, sedangkan aku yang harus menanggung ruginya, korbannya. Tapi ya gimana, namanya perkembangan zaman," ujarnya.

Upaya perlawanan sejauh ini terbatas. Ia disarankan melakukan verifikasi wajah, tetapi ragu menjalaninya. Kekhawatirannya sederhana, dan agak getir.

“Sejauh ini ga banyak, sih, jujur. Aku mikir, kan IG dan TikTok juga operated by AI, bukannya kalau aku scan wajahku jadinya malah makin mudah buat orang nyuri mukaku lewat AI?,” katanya.

Ia memilih berpegang pada hal lain. Di luar itu, ia menambahkan satu taktik yang ia sendiri tak yakin hasilnya.

“Jadi sekarang aku mengandalkan kredibilitas. AI kan ga bisa ada lisensi, gelar, dan sebagainya. Walau aku ragu works apa nggak, aku perkuat kemanusiaanku. Empati, tidak sempurna, ganti-ganti angle, be unpredictable," katanya.

Pilihan itu punya ironi yang tak bisa diabaikan, sebab nama “Incognito” lahir dari keinginan serupa, agar yang dilihat orang bukan tampangnya. Ia lelah, katanya, karena sebenar apa pun ilmu yang disampaikan, perhatian orang selalu tersedot ke latar dan fisiknya.

Topik Terkait