img_title
Foto : Freepik/ master1305

IntipSeleb – Marhaban ya Ramadan! Ya, bulan Ramadan akhirnya telah tiba dan umat Islam di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa selama satu bulan lamanya. Di tengah hiruk-pikuk menjelang Ramadan, pertanyaan soal apakah setelah imsak masih boleh makan dan minum masih muncul di kalangan masyarakat.

Sebelum membahas soal apakah setelah imsak masih boleh makan dan minum atau tidak, mari kita bahas sekilas soal sahur. Sahur merupakan hal yang dianjurkan untuk dilakukan sebelum menjalankan puasa. Makan sahur perlu dilakukan agar umat Islam kuat menahan lapar dan dahaga selama sehari penuh.

Lalu, kapan batas waktu sahur yang sebenarnya? Apakah ketika waktu imsak atau saat adzan subuh telah berkumandang?

Ketentuan Imsak

freepik.com/odua
Foto : freepik.com/odua

Waktu imsak biasanya ditandai saat 10 menit sebelum waktu subuh tiba. Di kalangan masyarakat, imsak memang dikenal sebagai penanda waktu dimulainya puasa. Maka tak heran bila banyak orang yang mengakhiri makan sahur saat tiba waktu imsak.

Di beberapa daerah di Indonesia, waktu imsak ditandai dengan peringatan suara dari masjid dan mushala agar masyarakat bisa bersiap menghentikan aktivitas makan dan minum lalu mulai menahan diri dari lapar dan dahaga hingga adzan maghrib berkumandang.

Walau demikian, masih banyak orang yang bertanya-tanya apakah setelah imsak masih boleh makan dan minum serta apakah imsak memang waktu yang tepat untuk menghentikan aktivitas sahurnya dan pertanda dimulainya puasa.

Lantas, seperti apa ilmu fiqih mengatur perihal ini? Benarkah imsak menjadi waktu awal dimulainya seseorang menahan lapar dan dahaga? Apakah setelah imsak masih boleh makan dan minum?

Melansir dari NU Online, Imam Al-Mawardi di dalam kitab Iqna’-nya menuturkan:

وزمان الصّيام من طُلُوع الْفجْر الثَّانِي إِلَى غرُوب الشَّمْس لَكِن عَلَيْهِ تَقْدِيم الامساك يَسِيرا قبل طُلُوع الْفجْر وَتَأْخِير (الْفطر) يَسِيرا بعد غرُوب الشَّمْس ليصير مُسْتَوْفيا لامساكمَا بَينهمَا

Artinya: Waktu berpuasa adalah dari terbitnya fajar kedua sampai tenggelamnya matahari. Akan tetapi (akan lebih baik bila) orang yang berpuasa melakukan imsak (menghentikan makan dan minum) sedikit lebih awal sebelum terbitnya fajar dan menunda berbuka sejenak setelah tenggelamnya matahari agar ia menyempurnakan imsak (menahan diri dari yang membatalkan puasa) di antara keduanya (Lihat Ali bin Muhammad Al-Mawardi, Al-Iqnaa’ [Teheran: Dar Ihsan, 1420 H] hal. 74).

Musthafa al-Khin dalam kitab Al-Fiqh Al-Manhaji menyebutkan:

والصيام شرعاً: إمساك عن المفطرات، من طلوع الفجر إلى غروب الشمس مع النية

Artinya: Puasa menurut syara’ adalah menahan diri dari apa-apa yang membatalkan dari terbitnya fajar sampai dengan tenggelamnya matahari disertai dengan niat (Musthafa al-Khin dkk, Al-Fiqh Al-Manhaji fil Fiqh As-Syafi’i [Damaskus: Darul Qalam, 1992], juz 2, hal. 73)

Sedangkan Sirojudin Al-Bulqini menyampaikan:

السابعُ: استغراق الإمساكِ عما ذُكرَ لجميع اليومِ مِن طُلوعِ الفجرِ إلى غُروبِ الشمسِ.​​​​​​​

Artinya: Yang ketujuh (dari hal-hal yang perlu diperhatikan) adalah menahan diri secara menyeluruh dari apa-apa (yang membatalkan puasa) yang telah disebut sepanjang hari dari tebitnya fajar sampai tenggelamnya matahari (Sirojudin al-Bulqini, Al-Tadrib [Riyad: Darul Qiblatain, 2012], juz 1, hal. 343).

Selain ayat tersebut, batas waktu makan dan minum sahur juga berdasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit RA:

حدثنا مسلم بن إبراهيم حدثنا هشام حدثنا قتادة عن أنس عن زيد بن اثبت رضي هللا عنه تسحران مع النيب صلى هللا عليه وسلم مث قام اىل الصالة قلت كم كان بني األذان والسحور ؟ قال : قدر مخسني آية

Artinya: Diriwayatkan dari Muslim bin Ibrahim, diriwayatkan dari Hisyam, diriwayatkan dari Qatadah, dari Anas, dari Zaid bin Tsabit RA ia berkata "Kami sahur bersama Nabi Muhammad SAW kemudian kami melakukan shalat (Subuh)" saya berkata; "berapa lama ukuran antara Sahur dan Subuh?" Nabi bersabda; "Seukuran antara Sahur dan Subuh?" Nabi bersabda; "Seukuran membaca 50 ayat Al-Qur'an!"

Dari keterangan-keterangan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa dimulainya puasa adalah saat terbit fajar yang merupakan tanda masuknya waktu salah subuh, bukan pada saat imsak. Adapun imsak, seperti yang dipaparkan oleh Imam Mawardi, hanyalah anjuran saja.

Jadwal imsak atau jadwal imsakiyah yang beredar biasanya dibuat untuk berhati-hati. Dengan adanya waktu imsak, maka seorang muslim akan lebih berhati-hati ketika mendekati waktu subuh dan bisa bersiap untuk salat.

Di waktu 10 menit sejak imsak hingga adzan subuh, seseorang bisa mengehentikan aktivitas sahur, menggosok gigi untuk membersihkan sisa makanan yang berpotensi membatalkan puasa dan persiapan mendirikan salat subuh.

Sebagai contoh, ketika jadwal imsak tidak ada dan seseorang tengah bersantai menikmati makan sahur. Karena tidak tahu pada jam berapa waktu subuh tiba, ketika adzan subuh tiba-tiba berkumandang dia akan tergesa-gesa dan masih ada sisa makanan di mulutnya.

Fakta unik soal imsak adalah bahwa penetapan jadwal imsakiyah ini hanya ada di Indonesia. Fenomena soal masjid dan mushala memberikan peringatan waktu imsak tidak bisa ditemui di negara mana pun selain Indonesia.

Adanya waktu imsak di Indonesia juga merupakan wujud perhatian para ulama di Indonesia kepada umat Islam agar ibadah puasa Ramadan menjadi lebih sempurna dan afdhol.

Berdasarkan penjelasan di atas, apakah setelah imsak masih boleh makan dan minum? Bisa disimpulkan bahwa batas waktu sahur menurut ajaran Islam bukanlah saat imsak. Imsak hanya sebagai pengingat bahwa sebentar lagi adzan subuh akan berkumandang.

Jadi, ketika ditanya apakah setelah masih boleh makan dan minum maka jawabannya adalah boleh. Seseorang masih bisa melanjutkan makan dan minum dan sebaiknya segera mempersiapkan diri untuk menjalankan ibadah puasa agar puasa menjadi lebih sempurna dan tidak berpotensi batal karena alasan yang sepele.(bbi)

Topik Terkait