img_title
Foto : IntipSeleb

“Karena aku nggak ngerti sama sekali cara ngecek perut hamil atau proses melahirkan, jadi workshop itu sangat membantu. Dari situ aku makin merasa dekat dengan Rahayu yang rapuh, penuh luka,” lanjutnya.

Menurut Aulia, Rahayu adalah simbol perempuan kuat yang dipaksa terus bertahan meski hidupnya dipenuhi kesialan. “Biasanya hidup orang naik turun, tapi Rahayu ini kayak sial terus. Capek banget jadi Rahayu, tapi aku justru tertarik merasakannya,” tuturnya.

Secara fisik dan emosional, peran ini menjadi salah satu yang paling menguras tenaga bagi Aulia Sarah. Adegan kerasukan menuntutnya tetap mengingat sisi rapuh Rahayu, bukan sekadar menampilkan gestur horor.

“Ini bukan cuma soal gerakan tubuh. Aku harus ingat, di dalam kesurupan itu ada Rahayu yang terluka. Itu yang bikin draining,” jelasnya.

Meski demikian, suasana lokasi syuting yang hangat menjadi penawar kelelahan. Aulia bahkan mengaku cukup sulit melepaskan karakter Rahayu setelah proses syuting berakhir.

“Aku butuh beberapa hari buat benar-benar lepas dari Rahayu. Karakter ini beda banget dari project aku sebelumnya,” katanya.

Di balik layar, film ini digarap oleh sutradara Deni Saputra bersama produser kreatif Hadrah Daeng Ratu. Naskah ditulis oleh Maruska Bath dengan pengembangan kreatif oleh Alim Sudio, serta diproduseri oleh Raam Punjabi.

Topik Terkait