“Padahal pacaran kita 5 tahun loh, istilahnya itu kurang apa sih. Tapi pas udah nikah oh beda,” kata Tantri.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa dinamika pernikahan menghadirkan tantangan baru yang tidak selalu muncul saat masa pacaran.
Arda menilai, akar persoalan rumah tangga mereka berasal dari trauma masing-masing di masa lalu. Menurutnya, luka batin yang belum selesai justru terlihat jelas ketika seseorang membangun relasi dalam pernikahan.
“Ternyata orang yang punya masalah trauma itu akan kelihatan ketika dia berelasi di rumah tangga, itu kelihatan semuanya,” ujar Arda.
Tekanan akibat ekspektasi yang tak terpenuhi membuat keduanya bahkan memandang pernikahan sebagai sesuatu yang membatasi kebebasan.
“Dan kita ngerasa bahwa nikah adalah penjara,” beber Arda.
Saat kondisi rumah tangga berada di titik kritis, Tantri dan Arda memutuskan berangkat umrah. Mereka berharap mendapatkan petunjuk atas persoalan yang terus membayangi hubungan mereka.