Ferly mengisahkan bahwa ia pernah mengucapkan janji kepada ibunya, bahwa ia tidak akan pernah membiarkan sang ibu menangis. Kalimat itulah yang kemudian menjadi inspirasi utama cerita sekaligus lagu dalam film.
"Lagu itu saya ciptakan untuk ibu saya. Ada bagian-bagian yang diambil dari dialog yang pernah saya sampaikan kepada beliau. Jadi film ini memang sangat personal bagi saya," katanya.
Selain drama keluarga, Takkan Kubiarkan Kau Menangis juga mengisahkan perjuangan seorang anak muda yang bermimpi menjadi musisi. Karena itu, Ferly sangat selektif dalam memilih pemeran.
Ia mencari aktor yang mampu bernyanyi dan bermain musik, atau setidaknya bersedia belajar secara intensif sebelum proses syuting dimulai.
"Kami membutuhkan aktor yang bisa bernyanyi dan bermain musik. Saat casting, itu menjadi salah satu pertanyaan utama. Kalau belum bisa, apakah mereka mau belajar? Syukurnya para pemain sangat antusias dan mau menjalani latihan selama beberapa bulan," jelasnya.
Bagi Ferly Halim, debut sebagai sutradara bukan sekadar pencapaian profesional. Ini adalah perjalanan emosional yang mempertemukannya dengan kenangan, keluarga, dan impian yang selama ini tersimpan.
Melalui Takkan Kubiarkan Kau Menangis, Ferly ingin mengajak penonton memahami pentingnya komunikasi, kasih sayang, dan pengorbanan seorang ibu yang sering baru disadari ketika waktu telah berlalu.