img_title
Foto : Intipseleb / Ichsan

Suasana melambat lewat lOst Together, di mana Mister Aloy mengaku ini menjadi pengalaman pertamanya menulis lirik. Trek keenam menampilkan leading single DNA bersama QG, Cowok Red Flag, lagu hip-hop yang sarat elemen dangdut dalam instrumentasi drop-nya.

Mendekati pertengahan album, DNA melakukan callback ke single pertama mereka tahun lalu, Love Ya, yang berkolaborasi dengan penyanyi-rapper asal Bandung, SYEQY. Musik kemudian bertransisi ke nuansa future house lewat Second Choice bersama INDAHKUS, sebelum berlanjut ke sketsa berikutnya, voy pa’ alla.

Lagu kesepuluh menghadirkan tempo dengan build up modern sebelum drop ke nuansa big room euro. PARKZ kembali tampil dengan hook catchy di Pop It, sebelum DNA menutup rangkaian sketsa lewat Ogoh-ogoh, penanda album mendekati penghujung.

Salah satu hidden gem dalam album ini hadir lewat Don’t Talk To Me, penampilan vokal full song pertama Mister Aloy sepanjang kariernya. Lagu ini banyak dipengaruhi dentuman dan ayunan khas musik klub era 2000-an, dengan instrumen synth dan permainan bass yang mendukung hook.

Setelah Arcapada, Mister Aloy kembali hadir lewat monolog introspektif di Chaotic Silence. Menjelang penutup, PARKZ kembali berkolaborasi dalam lagu drum n bass Feel It Comin’, yang energinya mempersiapkan pendengar menuju trek pamungkas.

Sebagai penutup album, DNA menggandeng YB atau Reza Oktavian dalam lagu Anomali, yang menjadi lagu pertama YB berbahasa Indonesia sepenuhnya. Lagu ini kental dengan elemen BKB dan trap racikan Mister Aloy dan JayJax, sekaligus menjadi kelanjutan jiwa dari Cowok Red Flag lewat gentakan gendang dan suling khas Jawa Timur.

Lewat album perdana ini, DNA berharap dapat mengajak pendengar masuk lebih dalam ke dunia musik mereka. Mister Aloy menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa OURORA; merupakan representasi jati diri DNA yang sesungguhnya.

Topik Terkait