IntipSeleb – Duo DJ Indonesia, DNA, yang beranggotakan JayJax dan Mister Aloy resmi mengumumkan perilisan album perdana mereka bertajuk OURORA; pada 3 Juli 2026. Setelah sebelumnya sukses merilis Love Ya, Cowok Red Flag, dan Second Choice, DNA kini membawa identitas musik mereka ke level yang lebih utuh lewat album berisi 18 trek ini.
Album OURORA; tidak bisa digeneralisir dalam satu genre. Warna khas Indo Bounce yang membesarkan nama DNA tetap mendominasi, namun DNA juga menghadirkan sisi idealis mereka lewat techno, dirty dutch, drum n bass, hingga trap.
Mister Aloy menjelaskan bahwa ide untuk merilis album ini sebenarnya sudah lama muncul, namun baru terealisasi secara serius sejak September 2023. Ia mengungkapkan alasan di balik strategi perilisan single per kuartal menjelang album ini rampung.
“Dari dulu memang pengen (rilis musik). Tapi baru ada kesempatan untuk buat rilisan yang ‘disengaja’ itu dari 2023 September. Akhirnya kita keluarkan per-Q (quarter) single-single yang akan ada di OURORA; dengan genre yang tidak kita mainkan saat di club. Sengaja kita lakukan ini, karena selain memberitahu dunia ‘ini lho, warna gue’, kita juga mau edukasi fanbase kita tentang arah musik yang akan DNA ambil dengan perilisan OURORA;,” jelas Mister Aloy.
Selain dari sisi musik, DNA turut menghadirkan OURORA; sebagai pengalaman visual yang menyatu dengan lagu-lagu di dalamnya. Perjalanan visual ini dimulai dari ilustrasi album art karya Elsha Graciella yang menggambarkan matahari terbit dengan perpaduan elemen dunia nyata.
Mister Aloy melanjutkan penjelasannya soal makna di balik album art tersebut.
“Untuk album art, kita ingin menuangkan cita-cita DNA ke dalamnya. Mulai dari kelompok burung yang terbang menuju cakrawala. DNA ini juga yang aku maksud bukan Mister Aloy dan JayJax saja, tapi seluruh tim yang telah membantu kita dari nol. Album ini adalah jerih payah kerja keras kita semua,” katanya.
Ia juga menyisipkan elemen-elemen lain yang merepresentasikan perjalanan karier DNA. Tiang listrik dengan kabel berantakan menjadi metafora hidup yang ruwet, layangan Bali menandakan kejenakaan yang terus mengiringi mereka, sementara matahari menjadi simbol tujuan akhir untuk “menjadi bintang” tanpa kehilangan sikap rendah hati, yang tercermin lewat gambar air tenang dalam ilustrasi tersebut.
Kolaborasi bersama sejumlah musisi turut mewarnai proses produksi OURORA;. JayJax, yang juga berperan sebagai DJ dan produser DNA, dibantu oleh Gamaliel Abram Pradipta dan Alvagracia Immanuel dalam menyusun rangkaian trek demi trek.
“Merupakan mimpi semua musisi untuk bisa membuat full length album. Sangat senang dengan produk akhir yang kita bawakan ke dunia, dan aku rasa komposisi lagu-lagu yang ada di dalamnya sehat rasionya antar lagu ‘komersil’ dengan idealisme kita berdua sebagai DJ,” jelas JayJax.
Album OURORA menyuguhkan total 18 lagu dengan durasi keseluruhan 1 jam 48 menit. Pembuka album, Who tf are we, menjadi sketsa perkenalan tentang siapa DNA sebenarnya, lewat perbincangan kandid antara Mister Aloy dan JayJax mengenai diri mereka dan harapan ke depan.
Trek berikutnya, Quest of The Sea, menghidupkan kembali nuansa trap tradisional yang menjadi awal karier musik DNA, mengingatkan pada era perilisan Bass Up pada 2018. Judulnya yang secara harfiah berarti “Pencarian di Lautan” menggambarkan awal perjalanan duo ini.
Lagu bertransisi secara seamless ke Two Heads, yang terbagi menjadi dua bagian dengan dua drop kencang dari trap menuju techno. Trek ketiga, PAIN, menjadi kolaborasi pertama DNA dengan PARKZ, MC yang selama ini kerap mendampingi DNA dalam berbagai penampilan live.
PARKZ menyumbangkan suaranya di tiga lagu dalam album ini dan mengambil alih penuh penulisan liriknya, menghadirkan elemen emo dan punk yang membentuk karakternya, dibalut dalam nuansa techno.
Suasana melambat lewat lOst Together, di mana Mister Aloy mengaku ini menjadi pengalaman pertamanya menulis lirik. Trek keenam menampilkan leading single DNA bersama QG, Cowok Red Flag, lagu hip-hop yang sarat elemen dangdut dalam instrumentasi drop-nya.
Mendekati pertengahan album, DNA melakukan callback ke single pertama mereka tahun lalu, Love Ya, yang berkolaborasi dengan penyanyi-rapper asal Bandung, SYEQY. Musik kemudian bertransisi ke nuansa future house lewat Second Choice bersama INDAHKUS, sebelum berlanjut ke sketsa berikutnya, voy pa’ alla.
Lagu kesepuluh menghadirkan tempo dengan build up modern sebelum drop ke nuansa big room euro. PARKZ kembali tampil dengan hook catchy di Pop It, sebelum DNA menutup rangkaian sketsa lewat Ogoh-ogoh, penanda album mendekati penghujung.
Salah satu hidden gem dalam album ini hadir lewat Don’t Talk To Me, penampilan vokal full song pertama Mister Aloy sepanjang kariernya. Lagu ini banyak dipengaruhi dentuman dan ayunan khas musik klub era 2000-an, dengan instrumen synth dan permainan bass yang mendukung hook.
Setelah Arcapada, Mister Aloy kembali hadir lewat monolog introspektif di Chaotic Silence. Menjelang penutup, PARKZ kembali berkolaborasi dalam lagu drum n bass Feel It Comin’, yang energinya mempersiapkan pendengar menuju trek pamungkas.
Sebagai penutup album, DNA menggandeng YB atau Reza Oktavian dalam lagu Anomali, yang menjadi lagu pertama YB berbahasa Indonesia sepenuhnya. Lagu ini kental dengan elemen BKB dan trap racikan Mister Aloy dan JayJax, sekaligus menjadi kelanjutan jiwa dari Cowok Red Flag lewat gentakan gendang dan suling khas Jawa Timur.
Lewat album perdana ini, DNA berharap dapat mengajak pendengar masuk lebih dalam ke dunia musik mereka. Mister Aloy menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa OURORA; merupakan representasi jati diri DNA yang sesungguhnya.
“Ya, ini kan album kita. This is the real us, gitu. Mawas diri kok kalau penonton dan fanbase selama ini tahu kita besar dan dinikmati dengan Breakbeat, Indobounce. Tapi perlahan-perlahan, aku mau ajak penonton untuk menikmati warna yang berbeda di sini,” tutup Mister Aloy.