IntipSeleb – Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan cerita remaja melalui film drama komedi keluarga berjudul Yang Disebut Nakal. Diproduksi oleh DLK Pictures bekerja sama dengan Inhype Pictures, film ini menawarkan perspektif berbeda tentang anak muda yang kerap mendapat cap nakal tanpa benar-benar didengarkan oleh orang dewasa.
Film Yang Disebut Nakal diproduseri oleh Diana Limbong, dengan Ryan Prasetyo sebagai eksekutif produser. Sementara itu, posisi sutradara dipercayakan kepada Benni Setiawan, yang mengemas kisah ini melalui perpaduan humor, konflik keluarga, persahabatan, dan perjalanan pendewasaan.
Berbeda dari kebanyakan film remaja yang kerap menyoroti sosok anak baik sebagai pusat cerita, Yang Disebut Nakal justru mengangkat kehidupan anak-anak muda yang dianggap bermasalah. Film ini mencoba memperlihatkan bahwa perilaku yang dinilai buruk tidak selalu mencerminkan keseluruhan karakter seseorang.
Di balik label tersebut, ada keresahan, persoalan keluarga, hingga kebutuhan untuk mendapatkan perhatian dan pengertian dari lingkungan sekitar.
Mengangkat Realitas Remaja yang Kerap Disalahpahami
Salah satu daya tarik Yang Disebut Nakal terletak pada pendekatannya dalam menggambarkan kehidupan remaja. Para karakter tidak digambarkan secara hitam-putih sebagai individu yang sepenuhnya baik atau buruk. Sebaliknya, mereka memiliki latar belakang, persoalan, dan cara masing-masing dalam menghadapi kehidupan.
Ryan Prasetyo selaku Eksekutif Produser Inhype Pictures menilai bahwa tema yang diangkat dalam film ini dekat dengan realitas masyarakat. Menurutnya, seseorang sering kali dinilai berdasarkan perilaku yang terlihat, tanpa memahami persoalan yang sedang dihadapinya.
“Kadang kita terlalu cepat menilai seseorang dari perilakunya, tanpa benar-benar mengetahui apa yang sedang dia hadapi. Kami ingin Yang Disebut Nakal menjadi film yang menghibur sekaligus mengajak penonton membuka perspektif, terutama ketika melihat anak-anak dan remaja yang sedang mencari arah,” ujar Ryan Prasetyo.
Melalui cerita tersebut, penonton diajak melihat persoalan remaja dari sudut pandang yang lebih luas. Film ini juga menyoroti pentingnya komunikasi antara anak dan orang tua, terutama ketika perbedaan pandangan justru membuat persoalan semakin sulit diselesaikan.
Program Pembinaan 21 Hari Jadi Latar Cerita
Keunikan lain dari Yang Disebut Nakal hadir melalui latar tempat berupa kamp pelatihan pembinaan mental dan karakter di kawasan terpencil. Di tempat tersebut, sekelompok remaja dari latar belakang berbeda harus menjalani program pembinaan selama 21 hari.
Jauh dari kebiasaan sehari-hari, mereka dihadapkan pada aturan, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang menuntut perubahan sikap. Kehidupan bersama di lingkungan baru juga membuat mereka harus berhadapan dengan ego, perbedaan karakter, serta persoalan pribadi yang selama ini mungkin mereka hindari.
Situasi tersebut menghadirkan berbagai dinamika, mulai dari kejadian mengundang tawa hingga konflik emosional yang menyentuh. Di tengah proses pembinaan, para remaja perlahan belajar memahami diri sendiri dan orang-orang di sekitar mereka.
Namun, film ini tidak menggambarkan perubahan sebagai sesuatu yang terjadi secara instan. Proses pendewasaan justru ditampilkan melalui pengalaman sehari-hari, kesalahan, persahabatan, dan keberanian untuk menghadapi persoalan yang selama ini terpendam.
Diana Limbong Ingin Cerita Remaja Menjangkau Berbagai Generasi
Produser Diana Limbong menjelaskan bahwa Yang Disebut Nakal dikembangkan dengan harapan dapat dinikmati sekaligus menjadi bahan refleksi bagi penonton dari berbagai generasi.
“Kami melihat ada banyak hal yang bisa dibicarakan melalui cerita remaja, mulai dari persahabatan, kedisiplinan, hubungan keluarga, sampai kebutuhan untuk didengar. Semua itu kami kemas dalam sebuah film yang punya humor dan kehangatan, tetapi tetap memberi ruang untuk merenung,” ungkap Diana Limbong.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa film ini tidak hanya berfokus pada kehidupan anak muda, tetapi juga membuka ruang bagi orang dewasa untuk mengevaluasi cara mereka memahami dan memperlakukan remaja.
Melalui perpaduan komedi dan drama keluarga, penonton diharapkan dapat menemukan pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus memahami bahwa setiap individu memiliki cerita yang tidak selalu terlihat dari luar.
Benni Setiawan Seimbangkan Komedi dan Emosi
Sebagai sutradara, Benni Setiawan menempatkan keseimbangan antara humor dan emosi sebagai salah satu elemen penting dalam film ini. Setiap karakter diberi ruang untuk menunjukkan kepribadiannya melalui interaksi sehari-hari, termasuk ketika mereka bersikap lucu, menyebalkan, atau memperlihatkan sisi rapuh.
“Saya ingin penonton mengenal karakter-karakter ini melalui keseharian mereka. Ada hal yang lucu, ada yang menyebalkan, ada juga yang menyentuh. Justru dari hal-hal kecil seperti itu, kita bisa melihat bahwa setiap orang punya cerita yang tidak selalu terlihat dari luar,” ujar Benni Setiawan.
Pendekatan tersebut membuat konflik dalam film tidak hanya bergantung pada peristiwa besar. Hal-hal sederhana dalam hubungan antarkarakter menjadi bagian penting untuk memperlihatkan perubahan sikap dan cara mereka memahami satu sama lain.
Dibintangi Donny Damara, Boris Bokir, hingga El Putra Sarira
Daya tarik Yang Disebut Nakal juga diperkuat oleh jajaran pemain lintas generasi. Film ini menghadirkan aktor senior Donny Damara, komika sekaligus aktor Boris Bokir, serta Aming.
Mereka beradu peran dengan sejumlah aktor muda, yakni El Putra Sarira, Fatih Unru, Giulio Parengkuan, Jeremie Moeremans, Andrew Baret, Richard Derick, dan Rafi Sanjaya.
Perpaduan pemain senior dan generasi muda tersebut menjadi bagian dari dinamika cerita, terutama ketika para karakter harus hidup bersama di lingkungan yang menuntut mereka untuk beradaptasi.
Dengan karakter yang memiliki latar belakang dan kepribadian beragam, film ini menghadirkan ruang bagi konflik, humor, serta momen emosional yang saling melengkapi.
Sinopsis Film Yang Disebut Nakal
Yang Disebut Nakal merupakan film drama komedi keluarga yang menceritakan sekelompok remaja dengan latar belakang berbeda. Mereka harus menjalani program pembinaan mental dan karakter selama 21 hari di sebuah tempat terpencil.
Di lingkungan yang jauh dari kehidupan sehari-hari, mereka dituntut untuk mengikuti aturan dan belajar bertanggung jawab atas tindakan masing-masing. Selama program berlangsung, mereka menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kedisiplinan, persahabatan, kehilangan, rasa malu, hingga konflik keluarga.
Kehidupan bersama tersebut menghadirkan pengalaman yang beragam. Ada momen yang mengundang tawa, situasi yang menguji kesabaran, serta peristiwa yang memaksa mereka menghadapi sisi diri sendiri yang selama ini berusaha dihindari.
Seiring berjalannya waktu, para remaja mulai memahami bahwa perubahan membutuhkan proses. Mereka juga belajar bahwa memahami orang lain tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat perilaku yang tampak di permukaan.
Melalui kisah tersebut, Yang Disebut Nakal mengajak penonton mempertanyakan kembali arti sebuah label. Sebab, seseorang yang dianggap nakal belum tentu tidak memiliki alasan di balik tindakannya. Terkadang, kesempatan untuk didengar dan dipahami dapat menjadi langkah awal menuju perubahan.
Menghadirkan humor, konflik keluarga, dan perjalanan pendewasaan, film produksi DLK Pictures bersama Inhype Pictures ini menawarkan cerita tentang remaja yang berusaha menemukan arah hidup sekaligus mencari pengertian dari lingkungan sekitarnya.