“Klaim bahwa Ibrahim itu kita kata orang Islam. Kata orang Yahudi Ibrahim itu kita. Kata Nasrani Ibrahim itu kita,” kata Gus Baha lanjut menerangkan.
Lantaran hal ini, menurut Gus Baha, Yerusalem, Hebron, Bethlehem diputuskan sebagai kota bersama. Ketiga kota itu juga dianggap sebagai kota internasional.
“Sebab perdebatan itu, ketika diputuskan Yerusalem, Hebron, Bethlehem, itu dianggap kota internasional, kota bersama,” ujar Gus Baha.
Ketika Gus Baha ingin shalat di masjid Ibrahim, ia harus melewati Sinagog. Gus Baha menemukan sebuah keunikan di sana. Ketiga agama, yakni Yahudi, Kristen, dan islam, memiliki tempat sakral yang sama.
“Jadi saya pernah shalat di masjid Ibrahim itu harus melewati Sinagog,” kata Gus Baha.
“Tembok yang satu yang sebelah ini dipake tembok ratapan, tembok yang sama yang satu dipake masjid. Itu satu tembok bukan dua tembok. Makanya tiga agama ini unik, musuhan tapi titik keramat itu menuju yang sama,” pungkas Gus Baha. (nes)