Soal tuduhan penelantaran finansial, Denada memiliki jawabannya. Ia mengaku rutin membiayai kehidupan dan pendidikan Ressa melalui mendiang ibunya, Emilia Contessa. Setiap tagihan pendidikan yang masuk selalu ia lunasi tanpa terkecuali.
"Termasuk kuliahnya, termasuk uang kuliahnya itu juga mama minta sama aku. Setiap kali ada tagihan-tagihan dari Ressa, itu di-forward ke aku. Semua uang kuliah yang mama minta, aku kirim," tegasnya.
Denada bahkan turun ke detail-detail kecil, salah satunya membelikan laptop untuk Ressa setelah mendengar sang anak harus mencatat begitu banyak hal tanpa perangkat yang memadai.
"Aku tanya, 'Emang enggak punya laptop? Kok kasihan melihat nulis sampai sebanyak itu?'. Terus aku bilang, 'Aku aja yang belikan, jangan yang mahal-mahal, yang biasa aja'," katanya menirukan percakapan dengan sang ibu.
Yang lebih mengharukan, Denada tetap menjalankan tanggung jawabnya bahkan di titik paling berat dalam hidupnya. Pada Juli 2019, saat ia kehabisan uang dan terpaksa menjual aset demi membiayai pengobatan putrinya, Aisha, di Singapura, Denada tetap mengirimkan dana darurat ketika Ressa membutuhkan bantuan.
Bibi Ressa, Ratih, sempat menawarkan agar uang itu dipotong dari jatah bulanan sang anak, tapi Denada menolak tegas.
"Tante Ratih waktu itu menghubungi aku, cerita bahwa Ressa sedang ada di satu situasi yang membutuhkan bantuan. Padahal saat itu aku lagi enggak ada duit, benar-benar enggak punya duit, aku lagi jual-jualin semua barang. Aku enggak pernah potong. Enggaklah, itu kan buat anak," jelasnya.