Pernyataan tersebut disampaikan untuk menjawab keresahan sebagian masyarakat yang mempertanyakan penggunaan nama “Yakuza” dalam organisasi tersebut.
Lebih lanjut, Gus Thuba menjelaskan bahwa Yakuza Maneges dibangun dengan konsep spiritual dan kemanusiaan yang kuat. Ia bahkan menyebut organisasi tersebut sebagai tempat pembinaan bagi kelompok yang disebutnya sebagai “santri jalur kiri”.
“Di bawah pimpinan saya, organisasi ini berdiri dengan semangat spiritual dan kemanusiaan yang kuat. Yakuza Maneges merupakan tempat bagi saudara-saudara kita yang sering kita sebut sebagai santri jalur kiri,” jelasnya.
Istilah “santri jalur kiri” sendiri disebut merujuk kepada individu yang pernah berada di jalan yang salah, terjerumus dalam kesalahan, namun memiliki niat untuk berubah menjadi lebih baik.
“Mereka yang tersesat dengan berada di jalan yang keliru bahkan terjatuh dalam dosa namun memiliki niat dan tekad untuk berbenah diri kembali ke jalan yang benar,” imbuhnya.
Meski telah dijelaskan langsung oleh Gus Thuba, kemunculan Yakuza Maneges tetap menuai berbagai reaksi dari masyarakat dan pengguna media sosial.
Banyak warganet mengaku penasaran sekaligus bingung dengan penggunaan nama “Yakuza” yang selama ini dikenal sebagai organisasi kriminal asal Jepang. Tak sedikit pula yang mempertanyakan alasan pemilihan nama tersebut meski diklaim memiliki makna berbeda.