Foto : Ist

Kampanye AI juga sudah menyiapkan proyek lanjutan setelah Jaka Tingkir Saga. "Nanti setelah series Jaka Tingkir sukses, kita bakal produksi serial selanjutnya Prabu Siliwangi dan Tutur Tinular," jelas Andi Sultan.

Tim produksi menggarap series ini dengan pendekatan yang mereka sebut Sinema AI. Setiap adegan disutradarai layaknya film layar lebar, lengkap dengan tata kamera, pencahayaan, koreografi laga silat, hingga kontinuitas karakter yang dijaga ketat di seluruh 57 episode.

Pendekatan ini menghasilkan tontonan kolosal berskala besar yang secara konvensional membutuhkan anggaran puluhan miliar rupiah dan ratusan kru. Kampanye AI menyelesaikan seluruh proses tersebut hanya dengan tim kecil dalam hitungan bulan.

"Kami membuktikan bahwa cerita kolosal Nusantara tidak harus menunggu anggaran besar untuk bisa diproduksi. Dengan AI, sejarah dan legenda kita bisa hidup kembali secepat imajinasi kita," tambah Choky Andriano.

Dynasty Shorts memposisikan diri sebagai platform untuk konten vertikal berkualitas setara sinema. Andi Sultan, yang menjabat CEO Dynasty Shorts, menegaskan bahwa Jaka Tingkir Saga menjadi bukti nyata potensi cerita lokal di panggung global.

"Jaka Tingkir Saga adalah judul yang tepat untuk menunjukkan bahwa cerita lokal bisa tampil sekelas produksi global," tegas Andi Sultan, CEO Dynasty Shorts.

Series Jaka Tingkir Saga: Bengawan Sore mengangkat kisah Tanah Jawa pada abad ke-16. Alur cerita bergerak dari kematian Ratu Kalinyamat yang ditinggalkan hingga pertempuran penentuan di tepi Bengawan Sore.

Topik Terkait