img_title
Foto : Catchplay

IntipSeleb – Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat untuk menuntut ilmu justru berubah menjadi mimpi buruk dalam serial horor terbaru Bloody Smart. Diadaptasi dari karya maestro horor Jepang Junji Ito, serial live-action ini menghadirkan teror mengerikan yang berawal dari ambisi mengejar nilai sempurna.

Menariknya, Bloody Smart menjadi serial live-action original pertama di dunia yang mengadaptasi semesta karya Junji Ito. Serial yang terdiri dari 10 episode ini telah hadir secara eksklusif untuk penonton Indonesia sejak 28 Juli 2026 melalui platform streaming CATCHPLAY+.

Tak hanya mengambil satu cerita, serial ini meramu elemen dari sejumlah karya ikonik Junji Ito, termasuk Tomie, Souichi's Convenient Curses, Slug Girl, Hanging Balloons, Blood-sucking Tree, hingga Lovesick Dead.

Kisah Kota Misterius dengan Tingkat Kelulusan 100 Persen

Bloody Smart mengikuti kisah Zhao Jia-qi yang diperankan Buffy Chen. Ia pindah bersama sang ibu, He Li-fen (Gigi Leung), ke sebuah kota misterius bernama Chongming.

Sekilas, Chongming tampak seperti tempat ideal bagi para pelajar. Kota tersebut bahkan mengklaim memiliki tingkat kelulusan hingga 100 persen.

Namun, di balik prestasi tersebut terdapat sistem pendidikan yang justru mengerikan. Zhao Jia-qi menemukan Lembaga Bimbingan Belajar Chongming yang memiliki prinsip ekstrem: "Hanya mereka yang memiliki nilai tinggi berhak untuk bertahan hidup."

Prinsip tersebut menjadi awal dari teror yang harus dihadapi para siswa. Tekanan untuk mendapatkan nilai tinggi tidak lagi sekadar persoalan akademis, tetapi berubah menjadi pertarungan untuk bertahan hidup.

Suasana Sekolah yang Bikin Merinding

Kengerian di Lembaga Bimbingan Belajar Chongming tidak hanya muncul dari karakter atau makhluk mengerikan. Lingkungan sekolah pun sengaja dibuat untuk menciptakan atmosfer yang tidak nyaman.

Sun Chin-yueh yang memerankan karakter Pak Guru Kao mengaku sangat antusias terlibat dalam proyek tersebut. Sebagai penggemar anime dan komik, ia memiliki pengalaman yang cukup berkesan selama proses syuting.

Ia menyoroti deretan foto siswa yang dipajang di koridor sekolah.

"Di koridor luar kelas dipajang deretan foto siswa berleher miring yang berhasil masuk kelas intensif di masa lalu. Atmosfernya sangat aneh dan terasa sangat nyata."

Detail tersebut menjadi salah satu elemen yang memperkuat nuansa horor psikologis dalam Bloody Smart. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar justru terasa seperti ruang yang menyimpan ancaman di setiap sudutnya.

Ruang Kelas Intensif yang Sangat Menyiksa

Tekanan ekstrem juga digambarkan melalui fasilitas bernama Kelas Intensif Perorangan. Ruangan tersebut dibuat dengan desain yang sengaja memunculkan rasa klaustrofobia.

Edison Song, pemeran Fu Ke-chin, mengungkapkan betapa tidak nyamannya lokasi tersebut. Menurutnya, desain ruangannya benar-benar membuat seseorang seolah berada di batas kemampuan fisik dan mental.

"Tempat itu sungguh menyiksa. Kamu harus membuka empat lapis pintu untuk masuk. Ruangannya sangat sempit sehingga kepalamu harus miring agar tidak membentur langit-langit. Tempat itu membuat seseorang mencapai batasnya—sebuah produk ekstrem yang hanya bisa diciptakan manusia."

Penggambaran tersebut memperlihatkan bagaimana Bloody Smart menggunakan ruang dan lingkungan sebagai bagian dari teror. Bukan hanya monster atau adegan berdarah, rasa tertekan juga muncul dari sistem pendidikan yang tidak manusiawi.

Para Pemeran Sampai Takut dengan Sistem Pendidikan Chongming

Buffy Chen dan Yu Jie-en yang menjadi pemeran utama juga menggambarkan suasana mencekam yang mereka rasakan selama berada di sekolah tersebut.

Yu Jie-en mengungkapkan bahwa sekolah dipenuhi spanduk bertuliskan "Belajar, Belajar". Menurutnya, sistem pendidikan yang ditampilkan dalam serial tersebut terasa jauh lebih dingin dan kejam dibandingkan pengalaman bimbingan belajar yang pernah ia jalani.

"Jika jadi siswa di sana, saya pasti sudah gila. Saya pernah ikut bimbingan belajar yang menetapkan aturan 'kurang satu poin dipukul satu kali', tapi murid-murid saat itu punya solidaritas kuat, tak dingin seperti di serial ini."

Yu Jie-en bahkan berseloroh bahwa sebagian besar adegannya dalam serial tersebut dihabiskan dengan berlari karena terus dikejar sesuatu.

Sementara itu, Buffy Chen ikut mengungkapkan ketakutannya terhadap sistem belajar yang diterapkan di Chongming.

"Bimbingan Belajar Chongming belajar selama 24 jam nonstop. Itu sangat mengerikan, saya pasti tak sanggup."

Bukan Sekadar Adaptasi Karya Junji Ito

Meski membawa sejumlah karakter dan elemen dari karya Junji Ito, Bloody Smart tidak dibuat sebagai adaptasi satu cerita secara langsung.

Sutradara Hsieh Chun-yi menjelaskan bahwa tim produksi mendapatkan izin resmi dari Junji Ito untuk mengembangkan sebuah cerita original yang memadukan berbagai elemen dari karya sang maestro horor.

"Di atas fondasi semangat karya sang maestro, kami menciptakan dunia baru melalui format serial live-action, membangun sebuah 'Alam Semesta Junji Ito' yang melampaui imajinasi."

Konsep tersebut membuat Bloody Smart memiliki pendekatan berbeda. Alih-alih hanya memindahkan cerita dari halaman komik ke layar, tim produksi mencoba membangun semesta baru dengan karakter dan hubungan yang lebih kompleks.

Salah satu tantangan terbesar adalah menghadirkan karakter fantasi seperti Tomie dan Souichi dalam bentuk manusia yang terasa utuh. Hal tersebut dilakukan dengan memperdalam latar belakang serta hubungan antarkarakter.

Dari sisi pemain, Bloody Smart menghadirkan deretan aktor dan aktris populer dari Taiwan serta Hong Kong.

Gigi Leung menjadi salah satu nama yang menarik perhatian. Aktris asal Hong Kong tersebut menandai debut drama Taiwan pertamanya melalui karakter seorang ibu dengan pola asuh penuh tekanan.

Ada pula aktor senior Winston Chao yang memerankan Profesor Kang, kepala sekolah yang memegang prinsip bahwa nilai akademis merupakan hal utama.

Chang Shu-wei juga tampil berbeda dengan memainkan karakter antagonis yang brutal dan tidak segan menggunakan sekop untuk menumpahkan darah.

Selain mereka, serial ini turut dibintangi Buffy Chen, Yu Jie-en, Zheng Wei-ling, Elly Hsu, Liu Hsiu-fu, Pan Kang-dag, Sung Po-wei, Qiao Yuan-yuan, Chiu Yi-tai, Tian Hsin, Tang Tsong-sheng, Lei Hung, James Wen, Aaron Yan, Janel Tsai, Sun Chin-yueh, hingga An Yuan-liang.

Produksinya juga didukung tim yang memiliki pengalaman serta penghargaan Golden Bell dan Golden Horse di berbagai bidang, termasuk sinematografi, artistik, tata busana, tata rias, hingga efek visual atau VFX.

Dengan konsep yang menggabungkan horor, tekanan pendidikan, dan kritik terhadap sistem yang terlalu mengagungkan nilai, Bloody Smart menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar adegan menakutkan.

Serial ini mencoba mempertanyakan sejauh mana manusia mampu bertahan ketika berada di bawah tekanan sistemis. Ambisi untuk mendapatkan nilai terbaik perlahan berubah menjadi obsesi, sementara siswa dipaksa menerima aturan yang mengorbankan sisi kemanusiaan mereka.

Kehadiran elemen dari berbagai karya Junji Ito juga membuat serial ini menarik bagi penggemar horor Jepang. Namun, bagi penonton yang belum familiar dengan karya sang maestro sekalipun, konsep kota misterius dan sistem pendidikan ekstrem yang ditawarkan Bloody Smart tetap menjadi daya tarik tersendiri.

Topik Terkait