IntipSeleb – Sepakbola telah lama menjadi olahraga yang sangat populer di Indonesia, dengan populasi penduduk yang merupakan salah satu terbesar di dunia.
Dan saat ini, kala gelaran akbar ajang Piala Dunia 2026 tengah berlangsung di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko bagi publik Tanah Air hal tersebut menjadi momen para penggemar setia aksi bintang ‘si kulit bundar’ sebagai pesta terhamparnya deretan laga bergengsi yang tersaji untuk dinikmati.
Untuk pertama kalinya, FIFA menghadirkan ajang Piala Dunia dengan 48 negara peserta yang terbagi ke dalam 12 grup. Jumlah pertandingan juga meningkat drastis menjadi 104 laga dari fase grup hingga final.
Ini artinya, penggemar sepak bola akan mendapat sajian pertandingan lebih panjang, lebih padat, dan lebih beragam. Yuk lanjut simak paparan ulasannya berikut ini.
Maka, di tengah melesatnya ekosistem industri digital saat ini menjadikan para penggemar ‘si kulit bundar’ bisa menikmati tayangan sepakbola tak cuma dari siaran televisi terestrial konvensional saja, namun juga melalui teknologi live streaming di berbagai gawai elektronik.
Dengan jadwal yang padat dan perbedaan zona waktu membuat sebagian pertandingan digelar pada dini hari hingga pagi, layanan live streaming menjadi solusi bagi penonton yang ingin menyaksikan pertandingan melalui ponsel, tablet, laptop, atau smart TV.
Dan akses live streaming menjadi salah satu pilihan praktis untuk mengikuti laga tanpa harus selalu berada di depan layar televisi. Selama perangkat terhubung internet, pertandingan bisa diakses dari mana saja sesuai layanan resmi yang tersedia.
Ya, tak bisa dipungkiri bahwa dengan jumlah penduduk dan penggemar sepakbola yang sangat antusias serta mengakar, Indonesia adalah magnet yang punya daya tarik begitu besar bagi penyedia jasa penyiaran sepakbola.
Di era modern dewasa ini, jutaan penggemar telah mengandalkan kebutuhan akan tayangan siaran langsung laga-laga sepakbola favoritnya dengan dapat menyaksikannya dari manapun mereka berada melalui platform digital, yang tanpa adanya gangguan.
Seperti halnya yang beberapa waktu lalu sempat mencuat, kala layanan live streaming tayangan laga Piala Dunia dari salah satu provider internet di Tanah Air mengalami kendala teknis yang membuat banyak pengguna kesulitan membuka tautan streaming atau berulang kali keluar dari akun.
Pihak provider terkait pun dilaporkan telah dengan intensif melakukan peningkatan kualitas layanan dan pemeliharaan untuk memulihkan akses normal. Hal itu pun sempat disebutkan salah satunya disebabkan lantaran antusiasme yang begitu tinggi untuk menonton laga Piala Dunia 2026.
Lantas bagaimana strategi untuk menjaga mutu keandalan layanan live streaming untuk menyuguhkan laga bergengsi bagi jutaan penonton di Indonesia? Hal itu pula yang turut menjadi sorotan oleh Chief Technology Officer Vidio, Tommy Sullivan.
Menurutnya, menghadirkan pengalaman tersebut dalam skala sebesar itu merupakan salah satu tantangan teknologi paling kompleks di dunia, dimana di mana satu pertandingan besar dapat menarik jutaan penonton secara bersamaan.
Yang sangat dan terpaling penting tak lain adalah bagaimana para pemirsa tayangan melalui live streaming dapat menikmati sajian berkelas tersebut dengan tanpa adanya gangguan.
Hal ini mengingat, dalam skala krusial tersebut, beberapa detik saja terjadi gangguan maka dapat berarti juga menjadi momen kehilangan pelanggan dan bahkan penonton yang tidak kembali lagi.
Indonesia merupakan motor pertumbuhan industri layanan streaming di Asia Tenggara. Dan ajang seperti Piala Dunia yang disiarkan langsung adalah momen pertumbuhan itu memuncak.
Potensi pertumbuhan industri streaming di Indonesia ke depan, khususnya terkait meningkatnya permintaan akan siaran langsung (live streaming) untuk ajang-ajang besar seperti Piala Dunia.
Sepanjang tahun terakhir, jumlah langganan SVOD tumbuh dari 21,9 juta menjadi 26,9 juta - sekitar 23 persen secara tahunan (year-on-year) - menjadikannya basis pelanggan terbesar sekaligus penambahan absolut terbesar di kawasan, menurut data Media Partners Asia kuartal IV 2025.
Jumlah pelanggan layanan streaming berbayar di seluruh Asia Tenggara naik 19 persen secara tahunan menjadi 61 juta, dengan pendapatan tumbuh 20 persen menjadi sekitar 2 miliar dollar AS.
Ajang Piala Dunia atau laga akbar tinju bergengsi dapat mencapai dalam satu akhir pekan apa yang biasanya butuh bertahun-tahun untuk diraih, mendorong jutaan orang untuk benar-benar berlangganan.
Dan yang kerap disalahpahami adalah di mana letak tantangan sebenarnya antara lain adalah perusahaan umumnya merencanakan dari sisi media-CDN egress, beban konkurensi dari siaran langsung itu sendiri dan bagian ini relatif sudah dipahami dengan baik.
“Yang justru biasanya gagal adalah sisi transaksional: jutaan pengguna mendaftar secara bersamaan, menunggu OTP, membeli paket, lalu mencoba ulang melalui kanal pembayaran kedua ketika kanal pertama mengalami timeout,” ungkap Tommy.
“Bertahan menghadapi ajang siaran langsung berskala besar sama besarnya merupakan persoalan penskalaan identitas dan pembayaran, bukan sekadar pengiriman video,” terangnya.
Selain itu, dukungan perangkat untuk keamanan konten juga merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan untuk memajukan ekosistem layanan streaming Indonesia lebih jauh berkembang lagi.
“Pembajakan, dan bukan hanya karena alasan yang umum diketahui. Selain hilangnya pendapatan bagi pemegang hak, ekosistem pembajakan di Indonesia sarat dengan malware dan infostealer,” ujar Tommy.
“Konten premium, terutama film yang baru tayang membutuhkan DRM berbasis perangkat keras dan HDCP. Dukungan untuk proteksi tersebut masih di bawah 90 persen pada televisi pintar (connected TV) dan di bawah 65 persen pada perangkat seluler di Indonesia,” lanjutnya.
“Hal ini membatasi kualitas konten yang dapat disajikan kepada konsumen Indonesia. Yang membuka akses ke tingkatan layanan premium adalah perbaikan komposisi perangkat, bukan sekadar bandwidth,” ulas Tommy.




