img_title
Foto : Ist

Tidak hanya gajah, Kebaya Adhikari juga memasukkan unsur Bundengan ke dalam koleksi “Resonara”. Alat musik tradisional khas Wonosobo tersebut dikenal lahir dari kreativitas masyarakat pedesaan.

Namun, keberadaannya kini mulai kurang dikenal oleh sebagian generasi muda. Kondisi tersebut menjadi alasan Kebaya Adhikari membawa unsur Bundengan ke dalam rancangan busana.

Unsur anyaman, pola, serta filosofi Bundengan diterjemahkan menjadi bagian dari desain kebaya. Cara tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan budaya lokal sekaligus upaya memperkenalkannya melalui medium yang lebih dekat dengan masyarakat masa kini.

Bagi Kukuh, kebaya, gajah, dan Bundengan memiliki benang merah yang kuat. Ketiganya merupakan bagian dari warisan Indonesia yang membutuhkan perhatian agar tidak hilang ditelan zaman.

“Koleksi ini lahir dari gagasan bahwa Indonesia memiliki banyak warisan yang sama-sama perlu dijaga. Kami memadukan tiga elemen yang saling melengkapi, yaitu kebaya sebagai identitas budaya bangsa, gajah sebagai simbol kelestarian alam, dan Bundengan sebagai warisan seni khas Wonosobo. Ketiganya kami satukan dalam satu karya untuk menunjukkan bahwa budaya dan alam adalah identitas Indonesia yang harus terus hidup berdampingan.” ujar Kukuh.

Kebaya Kini Makin Fleksibel

Di tengah perkembangan industri mode, kebaya juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya identik dengan acara formal dan seremonial, kini kebaya mulai hadir dalam berbagai gaya yang lebih modern dan fleksibel.

Topik Terkait