img_title
Foto : Ist

Ia menambahkan bahwa koleksi “Resonara” mendapat sambutan hangat dari publik. Apresiasi tersebut tidak hanya datang dari sisi desain, tetapi juga dari cerita mengenai kebaya, Bundengan, dan konservasi gajah yang diangkat melalui koleksi tersebut.

“Kami sangat bersyukur karena koleksi ini mendapat sambutan yang hangat. Tidak hanya diapresiasi dari sisi desain, tetapi juga karena cerita yang kami bawa tentang kebaya, Bundengan, dan konservasi gajah. Bagi kami, apresiasi tersebut menjadi semangat untuk terus berkarya dan membuktikan bahwa fashion Indonesia bisa menjadi media untuk mengangkat budaya lokal sekaligus menyuarakan isu-isu yang penting bagi masa depan.” ucapnya.

Lebih jauh, Kukuh memandang pelestarian sebagai sesuatu yang tidak terbatas pada upaya menjaga keberadaan satwa. Budaya juga membutuhkan perhatian serupa agar tetap dikenal dan memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, warisan budaya dan alam sama-sama membutuhkan ruang untuk terus hidup. Gajah membutuhkan habitat yang lestari, sedangkan kebaya dan Bundengan membutuhkan generasi yang mau mengenal, menggunakan, serta mengembangkannya.

“Bagi saya, pelestarian bukan sekadar menjaga agar sesuatu tetap ada, tetapi memastikan warisan itu terus hidup, berkembang, dan dikenal oleh generasi berikutnya. Prinsip itu berlaku untuk alam maupun budaya. Gajah membutuhkan habitat yang lestari agar tetap hidup, sementara budaya seperti kebaya dan Bundengan membutuhkan ruang untuk terus digunakan, diapresiasi, dan dikembangkan. Pelestarian adalah tentang menciptakan masa depan tanpa kehilangan akar yang membentuk jati diri kita.” tutur Kukuh.

Topik Terkait