img_title
Foto : Instagram/dinar_candy

"(Di pesantren nggak ada korban jiwa) Ada yang sobek, berlumuran darah," cerita Ayah Dinar Candy.
"Di lantai-lantai atas atapnya pada ambruk. Pas bapak dateng ke tetangga ponpes, kaget lihat mayat. Bapak bergetar, ‘astaghfirullahalazim gimana anak bapak’ bapak langsung nangis terus berdoa ke Gusti Allah," cerita Acep menggambarkan suasana hatinya kala itu.

Acep pun terus mencari keberadaan anaknya dari bawah ke atas, tapi belum ketemu juga. Ada yang bilang, Cecep berlari ke arah WC.

"Katanya dia (Cecep) di WC sambil nangis," kata Acep.

Rasa panik Acep pun hilang setelah melihat Cecep selamat tanpa luka sedikit pun. Melihat anaknya selamat, Acep menangis.

Gempa dengan kekuatan Magnitudo 5,6 itu membuat beberapa santri di pesantren tersebut banyak yang mengalami patah tulang karena melompat dari lantai tiga untuk menyelamatkan diri. Diakui sang adik, sejak gempa pertama terjadi, terdapat delapan gempa susulan lainnya. (hij)

Topik Terkait