Pasangan juga perlu memiliki kesepakatan yang jelas mengenai batas hubungan. Misalnya, apakah komunikasi dengan mantan diperbolehkan, bagaimana batas flirting di media sosial, atau apakah bertemu berdua dengan orang yang memiliki ketertarikan romantis dianggap masalah.
Pakar hubungan yang dikutip Verywell Mind juga menyarankan komunikasi terbuka dan penetapan kembali batas hubungan ketika menghadapi persoalan micro cheating.
Pada akhirnya, micro cheating bukan hanya soal chat, like, atau siapa yang dihubungi. Persoalan utamanya adalah kepercayaan, transparansi, dan batas yang telah disepakati bersama.
Sebab, sesuatu yang dianggap sepele oleh satu pasangan belum tentu terasa sepele bagi pasangan lainnya.
Hubungan yang sehat bukan berarti tidak boleh memiliki teman atau berinteraksi dengan orang lain. Yang lebih penting adalah adanya kejujuran, rasa hormat, dan kesediaan untuk menjaga batas yang telah disepakati bersama.
Jadi, sebelum buru-buru menyebut pasangan melakukan micro cheating, ada baiknya bertanya lebih dulu: apakah perilaku tersebut memang sudah melanggar kesepakatan dalam hubungan, atau hanya berbeda cara memandang batas kesetiaan?