img_title
Foto : Freepik.com

IntipSeleb Gaya Hidup – Perayaan Valentine atau hari kasih sayang kerap dimanfaatkan untuk mengungkapkan rasa cinta pada orang-orang tersayang seperti pacar. Untuk itu, perayaan yang diperingati setiap tanggal 14 Februari itu identik dengan pemberian hadiah atau sesuatu yang manis, seperti cokelat.

Namun, bagaimana hukum menerima cokelat valentine dalam Islam? Mengacu pada penjelasan Buya Yahya, berikut informasi selengkapnya.

Valentine Bukan Budaya Islam

Youtube.com/Al-Bahjah TV
Foto : Youtube.com/Al-Bahjah TV

Dalam sebuah kajiannya pada tahun 2018 lalu, Buya Yahya pernah mendapat pertanyaan dari salah satu pengikut kajian soal bagaimana jika kita mendapat bingkisan atau hadiah dari teman yang merayakan hari valentine.

Lalu, dalam pemaparannya, ia menegur secara halus anak-anak muda mengenai moment hari valentine agar jangan sampai terbius oleh hari hasih sayang yang dirayakan sedunia.

"Anda tidak perlu ikut-ikutan wahai anak-anakku semua. Kasih sayang yang diajarkan baginda Nabi SAW, kasih sayang itu adalah kasih sayang Nabi," tutur Buya Yahya, dilansir dari YouTube Al-Bahjah TV, Jumat, 3 Februari 2023.

Menurutnya, kasih sayang yang sebenarnya sudah dicontohkan oleh junjungan semua umat muslim yakni Nabi Muhammad SAW.

“Sebagai umat muslim, kasih sayang yang diajarkan baginda Nabi adalah kasih sayang kita dengan Nabi, karena Nabi adalah Rahmatan lil 'Alamin, kasih sayang sedunia. Anda punya Nabi Muhammad dan punya pendidikan dari Nabi, itulah kasih sayang sesungguhnya,” ungkap Buya Yahya dengan lembut.

“Mengajarkan kasih sayang di dalam perang, mengajari kasih sayang dengan binatang sekali pun, itulah kasih sayang Nabi SAW,” sambungnya.

Ditambah lagi, menurut Buya Yahya, valentine bukanlah budaya orang muslim. Mengingat dari sejarah perayaannya, itu dibuat oleh orang-orang non-muslim.

“Anda kan bisa membaca wahai anak-anakku, bagaimana kisah Valentine. Apakah itu kisah seorang yang sholeh dari umat Nabi Muhammad atau tidak? Kisah Valentine's Day adalah kisah yang mengagungkan seorang Santo di dalam agama yang bukan dari agama kita. Mengagungkan syiar yang bukan syiar agama kita, dan itu adalah kebatilan yang Anda tidak boleh ikut-ikutan," kata Buya.

Hukum Menerima Cokelat Valentine atau Hadiah Lainnya Diperbolehkan

Meski bukan budaya Islam, namun Buya Yahya mengatakan jika seseorang menerima hadiah cokelat valentine atau hadiah lainnya itu diperbolehkan. Hanya saja dengan tidak adanya maksud untuk mensyiarkan atau membesar-besarkan perayaan valentine.

"Misal, Anda diberi oleh seorang Nasrani yang merayakan valentine day, natalan sekalipun, misalnya permen, boleh saja dimakan, bukan sesuatu yang haram," jelas Buya Yahya.

"Akan tetapi, ketika saat pemberiannya dalam tujuan membesarkan hari perayaan tersebut, maka itu bisa menjadi haram," terangnya lagi.

Apalagi sebagai manusia kita diharuskan untuk menghargai setiap pemberian dari orang lain.

“Kamu harus menampakkan tanda cintamu karena sudah diberi hadiah. Maka, nikmati cokelat itu, sembari menasihatinya agar tahun depan saat memberi cokelat tidak perlu harus di hari Valentine.”

Jadi, kesimpulan yang disampaikan oleh Buya Yahya, mendapat hadiah cokelat pada Hari Valentine itu diperbolehkan. Namun, akan menjadi haram jika ada nilai penganggungan kepada selain Allah SWT. (rgs)

Topik Terkait