Alih-alih menunjukkan empati, pelaku justru meremehkan kondisi Aqia dengan menyebut bahwa cedera tersebut kemungkinan hanya keseleo. Bahkan, sopir itu sempat menawarkan uang Rp200 ribu untuk menyelesaikan masalah secara damai.
“Reaksi pertama saya adalah marah besar. Tapi lebih marah lagi ketika bapak ini meremehkan kondisi dengan bilang, paling keseleo. Terus mau kasih Rp 200 ribu untuk damai. Meledaklah saya,” tulis Fiersa.
Menurut Fiersa Besari, persoalan ini sama sekali bukan tentang nominal uang, melainkan menyangkut tanggung jawab dan keselamatan orang lain. Ia menilai tindakan pelaku sangat berbahaya, terutama karena kondisi fisik pelaku yang sudah lanjut usia dan dinilai tidak lagi layak mengemudi.
Fiersa juga mengungkapkan kekhawatirannya jika kelalaian serupa kembali terjadi dan menimbulkan korban lain di kemudian hari.
Setelah insiden tersebut, Aqia langsung dibawa ke Pos Kesehatan KAI Gambir untuk mendapatkan penanganan awal. Petugas kemudian merujuknya ke rumah sakit terdekat guna pemeriksaan lebih lanjut.
Hasil rontgen menunjukkan tidak ditemukan retak maupun patah tulang. Meski demikian, Aqia mengalami trauma otot dan berpotensi mengalami pembengkakan dalam beberapa hari ke depan akibat tekanan keras yang dialaminya.
Meski sempat mempertimbangkan jalur hukum yang lebih panjang, keluarga Fiersa Besari akhirnya memilih tidak memperpanjang laporan. Keputusan ini diambil untuk menghindari proses hukum yang berlarut-larut dan melelahkan.