Produser kreatif Santara, Avandrio Yusuf, mengungkapkan bahwa proses riset dilakukan secara mendalam dengan melibatkan kepala adat dan masyarakat di wilayah Manado dan Tomohon.
Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan keaslian berbagai aspek, mulai dari visual sosok Songko, kostum, bahasa, hingga atmosfer desa yang ditampilkan.
Sementara itu, Eksekutif Produser Whisnu Baker menegaskan bahwa film ini menjadi bagian dari upaya mengangkat cerita lokal ke level nasional tanpa kehilangan identitas aslinya.
Sutradara Gerald Mamahit menjelaskan bahwa Songko tidak hanya mengandalkan sosok makhluk menyeramkan, tetapi juga menggali sisi gelap manusia.
“Horor di film ini bukan cuma dari makhluknya, tapi dari manusia yang mulai kehilangan rasa percaya satu sama lain,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh para pemain seperti Annette Edoarda yang merasakan ketegangan berbeda saat menyaksikan hasil akhir film ini.