img_title
Foto : Ist

“Kadang kita terlalu cepat menilai seseorang dari perilakunya, tanpa benar-benar mengetahui apa yang sedang dia hadapi. Kami ingin Yang Disebut Nakal menjadi film yang menghibur sekaligus mengajak penonton membuka perspektif, terutama ketika melihat anak-anak dan remaja yang sedang mencari arah,” ujar Ryan Prasetyo.

Melalui cerita tersebut, penonton diajak melihat persoalan remaja dari sudut pandang yang lebih luas. Film ini juga menyoroti pentingnya komunikasi antara anak dan orang tua, terutama ketika perbedaan pandangan justru membuat persoalan semakin sulit diselesaikan.

Program Pembinaan 21 Hari Jadi Latar Cerita

Keunikan lain dari Yang Disebut Nakal hadir melalui latar tempat berupa kamp pelatihan pembinaan mental dan karakter di kawasan terpencil. Di tempat tersebut, sekelompok remaja dari latar belakang berbeda harus menjalani program pembinaan selama 21 hari.

Jauh dari kebiasaan sehari-hari, mereka dihadapkan pada aturan, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang menuntut perubahan sikap. Kehidupan bersama di lingkungan baru juga membuat mereka harus berhadapan dengan ego, perbedaan karakter, serta persoalan pribadi yang selama ini mungkin mereka hindari.

Situasi tersebut menghadirkan berbagai dinamika, mulai dari kejadian mengundang tawa hingga konflik emosional yang menyentuh. Di tengah proses pembinaan, para remaja perlahan belajar memahami diri sendiri dan orang-orang di sekitar mereka.

Namun, film ini tidak menggambarkan perubahan sebagai sesuatu yang terjadi secara instan. Proses pendewasaan justru ditampilkan melalui pengalaman sehari-hari, kesalahan, persahabatan, dan keberanian untuk menghadapi persoalan yang selama ini terpendam.

Topik Terkait