“Nggak mudah juga untuk menerima karakter ini. Perlu diyakini berkali-kali. Karena memerankan karakter ini tuh ada memori-memori yang bisa kita korek. Tapi kalau memerankan karakter yang belum kita alami, itu kayak ‘Hah, gimana ya?’,” kata Nirina.
Awalnya, Nirina bahkan menganggap film ini sebagai pesan untuk anak-anaknya.
“Waktu Nirina menerima pertama kali tawaran film ini, sebenarnya ini tadinya niatnya adalah surat cintaku buat anak-anakku. Karena punya anak umur 16 tahun dan menjelang 14 tahun. Jadi nanti kalau kamu udah gede, kamu lihat karya-karya ibu kamu, salah satunya ini kamu tonton buat kamu ingat aku,” tuturnya.
Namun saat proses syuting berlangsung, ia justru merasa film ini menjadi pengingat tentang sosok ibunya sendiri.
“Ternyata pas lagi menjalankan karakter ini kebalik. Jadi ceritanya malah aku diingatkan betapa dulu punya ibu dan apa yang sudah ibuku lakukan untuk menjadi seorang Nirina Zubir sekarang. Jadi ternyata ini surat cinta buat aku sendiri kepada ibuku,” ungkapnya.
Tak hanya secara emosional, peran ini juga menuntut usaha ekstra dari Nirina secara fisik. Untuk memerankan karakter Ristiana yang sudah berusia lanjut, ia harus menjalani proses makeup khusus yang memakan waktu hingga empat jam setiap hari.