X

img_title
Foto : nikitamirzanimawardi_172/instagram

Petugas menawarkan hotel bintang lima. Nikita akhirnya menerima tawaran tersebut karena sudah ingin beristirahat. "Gue capek mau istirahat, gue iyain aja, dikasih list hotel bintang 5 semua. Padahal gue tidur di hotel murah aja nggak apa-apa kan, karantina nggak bisa ke mana-mana dan hotel sepi. Udah kayak kota mati. Dikasih list hotel mahal gue iyain aja, gue tanya harganya, Rp17,8 juta. Ya sudah pesanlah hotel itu," ujar dia.

"Gue minta bisa nggak satu kamar dua orang karena kita satu tim. Jadi Rp17,8 (juta) dikali tiga selama delapan hari. Pas sampai hotel harganya berubah jadi Rp22 juta. Itu saksinya yang dengar banyak," lanjut Nikita Mirzani kaget.

Bukan tak sanggup membayar mahal, bagi Nikita harga tersebut tak masuk akal. Apalagi dia dan tim manajemennya negatif COVID-19 seolah-olah diperlakukan layaknya seseorang yang positif COVID-19.

"Gue bukan berantem ya, gue tanyain, 'Kok di Bandara Rp17 juta, kok di Hotel Rp22 juta?' Karena gue capek ya gue bayar. Di situ udah nunggu tim satgas buat PCR. Ya sudah habis bayar ya kita tes. Besoknya hasilnya negatif. Maksud gue kalau negatif jangan diperlakukan seperti orang positif," ujar Nikita Mirzani. (jra)

Berita Terkait :

Saksikan Juga